Ndadi, Kesurupan…

Sahrudin Kuda Lumping Jatilan Magelang

PEMAIN yang masih belia, mengalami kesurupan (trance) pada pertunjukan jathilan (kuda lumping) di dusun Sekaran, desa Banyurojo, kecamatan Mertoyudan, kabupaten Magelang, Minggu (14 Maret 2010).

Oleh: Sahrudin

TIBA-TIBA, seluruh perangkat gamelan ditabuh dengan tempo yang semakin cepat. Bunyi kendang, saron, demung dan gong terdengar begitu nyaring. Para penari, yang terdiri dari penunggang kuda kepang, pemakai topeng dan pengusung barongan, mendadak seperti kesetanan.

Gerakan mereka tak lagi turut pakem koreografi jathilan. Apalagi, setelah pawang menebar sejumput kembang mawar, kenanga dan melati, yang lebih dulu dimantrai.

Penunggang kuda kepang menabrak pemakai topeng. Pemakai topeng menubruk pengusung barongan. Debu beterbangan, menyertai para pemain jathilan yang jatuh berguling-guling. Sebagian penonton melangkah mundur.

Mereka ndadi, kesurupan, kerasukan setan atau jin, fall into a trance

Ndadi menjadi klimaks dalam setiap pertunjukan jathilan, untuk menarik perhatian penonton. Tanpa adegan tersebut, kesenian yang juga dinamai kuda lumping ini akan terasa tak sempurna.
“Bukan hanya yang dewasa, jathilan anak-anak juga sudah bisa (ndadi),” kata Slamet (62), Selasa, 16 Maret 2010. Slamet adalah salah satu pendiri sekaligus pawang jathilan, pada Paguyuban Kesenian Tradisional Sendra Tari Kuda Lumping “Setia Bakti”, Dusun Saragan, Desa Banyurojo, Mertoyudan, Magelang.

Slamet menjelaskan, tidak sulit mengetahui ciri pemain yang sungguh-sungguh atau yang hanya berpura-pura ndadi. Yang ndadi beneran, sejak awal biasanya sudah tidak dapat mengontrol tingkah dan polahnya. Tak jarang, apapun yang ada di sekelilingnya akan dia rangsek, tanpa sungkan atau ragu-ragu.

Image by SahrudinPemain jathilan yang benar-benar sedang ndadi, kadang juga berteriak-teriak mengeluarkan kata-kata yang tak jelas maksudnya. Tangannya mengepal kuat, kakinya menegang. Kedua mata terpejam, yang bila kelopak matanya dibuka hanya akan tampak putih korneanya. Jika seorang pemain jathilan pada saat ndadi tidak mengalami hal-hal demikian, bisa dipastikan dia sedang berpura-pura kesurupan saja.

Namun dalam sebuah pertunjukan jathilan, kebohongan macam ini tidaklah diharamkan. “Yang penting bisa membuat penonton merasa ngeri, takut, tapi sekaligus juga terhibur,” tutur Sugino (66), rekan Slamet. Toh, lanjut Sugino, makin banyak pemain yang ndadi, penonton akan makin kesulitan membedakan mana yang sungguh-sungguh, atau yang cuma pura-pura. Bisa jadi, mereka malah samasekali tidak peduli.

Jika pemain jathilan sudah ndadi, tugas pawanglah untuk membimbing mereka menari menurut irama gamelan. Biasanya, pawang akan membisikkan mantra-mantra tertentu sembari menjambak rambut pemain yang ndadi tersebut. Ketika mantra selesai dibisikkan, ditiuplah kedua telinga pemain. Tujuannya, agar mantra yang berupa sugesti tadi tertanam di alam bawah sadarnya. Lalu pawang mengangkat tubuh pemain, kemudian dijatuhkannya lagi. Maka, menarilah ia sesuai laras gamelan…

SEBELUM jathilan dimulai, semua perlengkapan ditata di arena pertunjukan. Kuda kepang yang berjumlah 8 sampai 10 buah, disusun berpasangan. Topeng-topeng dan barongan digeletakkan di sekelilingnya. Pawang dan beberapa pembantunya berjalan memasuki arena pertunjukan. Di tangan mereka, sesaji berisi beberapa macam bunga, telur ayam, rempah-rempah, sampai rokok kretek dan kemenyan bakar.

Inilah ritual yang dilakukan untuk meminta “ijin” dan restu dari roh serta dayang penunggu desa, supaya pertunjukan bisa berjalan lancar. Dalam ritual itu, setidaknya ada 2 (dua) macam mantra yang  akan dibacakan oleh pawang.

Narapas araning geni
nurmanik araning menyan
sanggondo kukusing menyan
niat isun ngobong dupo
kudu dupo mbekteni.

Hai jebuk arum araning menyan
krenges araning menyan
mego mendung kukusing menyan
umbulno langit sepitu
amblesno bumi sepitu
tampakno niatku ngaweruhi.

Image by SahrudinKedua mantra yang beberapa patah katanya merupakan Bahasa Jawa kuno itu, mengandung arti penjelasan terhadap sesaji yang dipersembahkan bagi roh dan dayang, yang bersemayam di desa tempat pertunjukan.

Legiman, pendiri kelompok jathilan “Turangga Beksa” dari Dusun Seneng, Desa Banyurojo menyebutkan, keberadaan sesaji tidak mungkin dipisahkan dari sebuah pertunjukan jathilan. “Apapun tujuannya, untuk mengundang jin, meminta ijin roh, tetap diperlukan,” tandas pria 54 tahun ini. Sebab jathilan, berbeda dengan jenis seni tari Jawa lainnya. “Jathilan itu tarian mistik,” katanya.***

9 responses to “Ndadi, Kesurupan…

  1. Perasaan orng yg udh ndadi matanya ga putih.,. Malah merah kaya iritasi., mungkin salah nulis kali ya.

    Like

  2. kalau salah tulis sih enggak ya (tuh, ejaan benar :D)… mungkin saya waktu ngobrol salah dengar atau narasumber yang salah ngomong… heheh. soalnya udah bertahun2 lalu nulisnya.

    Like

  3. Kirim kan mantra menyadar kan orang yang lagi kesurupan dan pantangan sekaligus syarat orang yang menyadar kan nya

    Like

  4. mantranya bacalah YA GHOIBI sebanyak banyaknya di dalam hati dan sambil dengarkan musiknya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s