Dari “Striptease” Sampai “Gado-gado”

Potret alm Haji Widayat pada poster yang terpampang di bagian belakang Museum Haji Widayat, Mungkid.

Tahun 1960 sampai 1962, Widayat mendalami bidang seni keramik, ikebana atau seni merangkai bunga, serta ilmu pertamanan di Jepang. Di sela-sela pelatihan itulah, suatu malam ia menonton striptease alias tarian telanjang. Namun baru 30 tahun kemudian, pengalaman melihat tarian telanjang itu tergores di atas kanvas dan diberi judul “Nonton Striptease di Jepang.”

SAHRUDIN, Mungkid

 Lukisan berjudul “Nonton Striptease di Jepang” kini terpampang di salah satu sudut ruangan di lantai pertama Museum Haji Widayat. Ukuran gambar yang dibuat dengan cat minyak di atas kanvas itu sebenarnya tak terlalu besar, hanya 55 kali 64 sentimeter. “Namun, itulah salah satu karya Widayat yang sering bikin pengunjung cekikikan,” ujar Suprayitno, salah seorang pekerja museum.

Di sebelah “Nonton Striptease di Jepang”, terpasang lukisan lain yang oleh sang maestro diberi judul “Nude”. Ukurannya juga termasuk kecil, 25 kali 35 sentimeter. Tergambar di sana, 5 (lima) perempuan telanjang yang sedang tiduran. Ada yang sedang tengkurap, ada yang terlentang. Sama seperti “Nonton Striptease di Jepang”, karya Widayat yang satu ini dibuat tahun 1990.

Masih bersebelahan dengan kedua karya diatas, ada lagi lukisan berjudul “Wanita Panggilan.” Karya ini dibuat Widayat tahun 1997. “Sesuai dengan judulnya, pesan yang hendak disampaikan sang pelukis sepertinya tak jauh dari persoalan seputar perempuan, berikut realitas sosial yang melingkupinya,” kata Suprayitno, mencoba menebak-nebak.

Museum Haji Widayat berdiri di jantung Kecamatan Mungkid, terdiri dari 2 (dua) lantai dan dikelompokkan menjadi beberapa ruangan. Lantai pertama diisi dengan karya-karya Widayat sejak 1953 hingga goresan terakhirnya yang dibuat tahun 1998. Keseluruhan tercatat ada 130 buah lukisan.

Pada dinding-dinding lantai kedua, terpampang 133 karya perupa lain yang juga dikoleksi Widayat. Mereka adalah pelukis ternama, baik yang dihitung sebagai angkatan tua maupun pelukis muda, juga seniman mancanegara. Sebut saja Troeboes, Sudjojono, Le Man Fong, Bagong Kussudiarjo, Nyoman Gunarsa, Jorge Carrasco, dan Paul Husner.

“Masih ada belasan bahkan puluhan pelukis lain yang karyanya dikoleksi Pak Widayat,” terang Suprayitno.

Lukisan lain yang dinilai sangat bermakna adalah “Ibu Yuswo 54 Tahun.” Objek dalam lukisan yang dibuat tahun 1953 ini adalah seorang pembatik bernama Ibu Jumi, yang tak lain ibunda Widayat sendiri. Karya berukuran 60 kali 47 sentimeter ini sekaligus merupakan lukisan tertua yang dipajang di Museum Haji Widayat.

Meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada tahun 1996 tampaknya juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Widayat. Terbukti, tidak lama berselang, dari goresan kuasnya terciptalah “Doa untuk Ibu Negara”, sebuah lukisan berukuran 50 kali 50 sentimeter yang dibuat dengan cat minyak dengan media kanvas.

Lukisan berukuran paling besar yang pernah dibuat Widayat, hingga kini masih bisa dilihat pada dinding di lantai pertama, di museum yang diresmikan tanggal 30 April 1994 ini. Widayat menamainya “Gado-gado”. Karya ini ia bikin di tahun 1993 dengan cat akrilik, berukuran 339 kali 410 sentimeter.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s