Gajah-gajah Borobudur, Apa Kabar?

Salah satu dari 5 gajah yang terdapat di Taman Wisata Candi Borobudur.

Setiap hari, Sella butuh minum sekitar 200 liter air. Ia bisa menghabiskan 50 liter air tiap kali minum. Porsi makannya, 150 kilogram tiap hari. Lebih dari 2/3 harinya ia lewati hanya dengan minum dan makan. Tak heran, jika berat tubuh Sella kini mencapai 1 ton lebih. Sampai-sampai, begitu lambat ia berjalan.

SAHRUDIN, Borobudur

Sella adalah nama gajah betina yang disumbangkan Ibu Tien Soeharto, almarhumah, kepada TWCB (Taman Wisata Candi Borobudur) tahun 1991 lalu. Mamalia bernama Latin elephas maximus sumatranus temminck ini didatangkan dari Taman Nasional Way Kambas, Lampung Tengah. Ketika itu, umur Sella baru 16 tahun.

Tanggal 29 Juni 1992, Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Soesilo Soedarman (alm) menambah koleksi gajah Lampung untuk TWCB. Molly dan Lizzy, demikian nama kedua mamalia betina sumbangan Soesilo.

Tujuh tahun kemudian, persisnya tanggal 15 Juli 1999, Mantan Gubernur Lampung Oemarsono turut melengkapi satwa piaraan TWCB, dengan mengirimkan Bonna dan Ecca langsung dari Way Kambas. Bonna adalah gajah jantan, sedangkan Ecca berjenis kelamin betina.

“Gajah-gajah itu diberi nama sejak masih sangat kecil, sejak masih umur beberapa bulan. Saat mereka masih di Way Kambas,” kata Pujo Suwarno, Kepala Unit TWCB, kemarin.

Kelima satwa tersebut kini dipelihara dalam kandang berukuran 8 kali 10 meter. Agar tak stress, sekali waktu mereka diumbar di tempat bermain khusus yang berupa taman dan kubangan seluas 10 ribu meter persegi. Di dekat kandang dan tempat bermain gajah-gajah itu, dibuat tempat pakan berukuran 3 kali 6 meter.

Didampingi mahout, wisatawan menaiki gajah berkeliling Taman Wisata Candi Borobudur.

Tiap gajah punya pawang (mahout) sendiri. Sella ditangani oleh Kundori, Molly oleh Kadir, dan Lizzy dilatih oleh Nursalim. Bonna dan Ecca masing-masing punya 2 (dua) mahout. Bonna ditangani Kipyadi dan Heni Sandrawati, sedangkan Ecca dilatih oleh Matropin dan Wahyuni Handayani.

“Mereka adalah mahout-mahout terlatih, didikan Way Kambas,” terang Pujo.

Kini, setelah 19 tahun berada di TWCB, Sella sudah mahir melukis. Bukan hanya itu, gajah berumur 35 tahun ini pun bisa bermain basket, bisa mengalungkan rangkaian bunga ke leher manusia, bisa duduk dan bisa pula melakukan hormat. Molly, gajah betina berumur 32 tahun, sudah paham kalau disuruh duduk, sudah bisa melakukan hormat, dan sudah bisa mengambil benda dengan belalainya.

Keterampilan semacam itu pun dipunyai Lizzy, Bonna dan Ecca. “Mereka akan disuapi permen Davos kalau bisa menuruti kata-kata atau perintah mahout-nya,” jelas Pujo.

Selain banyak minum, porsi makan gajah-gajah ini terbilang cukup besar. Dalam sehari, seekor gajah mampu menghabiskan sedikitnya 150 kilogram pakan, yang kebanyakan berupa rumput gajah. Rumput-rumput itu didapat dari para petani di sekitar Borobudur. Makanan tambahan yang juga dibutukan gajah adalah wortel, pelepah kelapa, ubi-ubian bahkan buah-buahan.

“Istilahnya, sebagai puding ekstra. Tapi pudingnya gajah, lho,” cetus Pujo. Dalam sehari, anggaran yang dikeluarkan untuk makan gajah mencapai Rp 150 ribu.

Seminggu sekali, drh Mahmud Asvan dari Kebun Binatang Gembiraloka Yogyakarta memeriksa kondisi kelima mamalia itu. Mengingat, saat ini tidak semua gajah dalam keadaan sehat. Molly sedang menderita bisul kaki dan lecet kulit, Lizzy terkena akses kaki, dan Bonna, satu-satunya gajah jantan di Borobudur, sedang didera sumpung gading kanan dan akses kaki.

“Tapi gajah-gajah itu tetap bisa berjalan dan dinaiki pengunjung. Penyakit-penyakit itu tidak berbeda dengan kudis pada manusia. Tidak menular ke manusia, apalagi kalau pengunjung naik ada kursi pelindungnya,” terang Pujo.

Sampai saat ini, belum ada gajah betina di TWCB yang melahirkan bayinya. Ini disebabkan, Bonna si gajah jantan kurang bisa maksimal ketika ereksi. “Mungkin jamu yang diberikan kurang tok-cer,” kata Pujo, bercanda. Padahal, gajah Bonna masih berumur 25 tahun. Seperti halnya manusia, kisaran usia demikian merupakan puncak masa pubertas bagi gajah.

Bagi pengunjung, pihak TWCB menyediakan 2 (dua) jenis paket wisata gajah, yakni paket safari dan paket atraksi. Tarif untuk paket safari berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta 250 ribu perorang. Sedangkan wisatawan yang memilih paket atraksi, hanya dikenai biaya sekitar Rp 50 ribuan tiap 15 menit menaiki gajah.

“Fasilitasnya memang beda,” imbuh Pujo. Dia menyontohkan salah satu item yang ditawarkan dalam paket safari gajah, yakni Borobudur Dagi Hill Adventure. Dipandu seorang mahout, wisatawan akan diajak naik gajah menelusuri rute yang dimulai dari kandang, menuju lereng Bukit Dagi bagian timur, naik ke puncak Bukit Dagi dengan pemandangan Candi Borobudur, kemudian turun melalui lereng bukit bagian barat, lalu lereng selatan, baru kembali lagi ke kandang.

“Panjang perjalanan sekitar 500 meter, waktunya 30 menit, tarifnya Rp 250 ribu,” kata Pujo. Paket yang lebih tinggi adalah Borobudur Sileng River Adventure. Tarifnya Rp 1 juta 250 ribu perwisatawan. Dengan jarak tempuh kira-kira 1 kilometer, wisatawan akan diajak mengendarai gajah menyusuri areal persawahan, melintasi sungai kecil di dusun-dusun sekitar Candi Borobudur.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s