Jual Keranjang Tiap Wage dan Pahing

Keranjang ero buatan pengrajin di Dusun Pete, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak. Keranjang ero adalah keranjang bambu, yang umumnya hanya dipakai untuk membawa sayuran dan tembakau.

Sri Aryani hanya berjualan keranjang ero setiap wage dan pahing. Ini bukan karena ia menganut aliran kepercayaan tertentu. Tapi, STA (Stasiun Terminal Agribisnis) Ngablak memang hanya akan ramai penjual dan pembeli, pada dua hari dalam sistem penanggalan Jawa tersebut.

SAHRUDIN, Ngablak

“Selain wage dan pahing, di sini hanya ramai orang jualan sayur,” kata Aryani, pembuat sekaligus pedagang keranjang ero dari Dusun Pete, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak.

Keranjang ero adalah keranjang bambu, yang umumnya hanya dipakai untuk membawa sayuran dan tembakau. Mengingat besarnya ukuran celah anyaman, kalau dipakai untuk membawa jeruk atau tomat, tentu isinya akan berjatuhan.

Setiap wage dan pahing, perempuan 45 tahun ini membawa ratusan keranjang ero ke STA Ngablak. Di sini, bersama beberapa pedagang keranjang lainnya, Aryani kebagian tempat di sisi timur, berdekatan dengan penjual kambing dan kedai makanan.

“Saya dapat tempat yang tidak ada atapnya. Kalau hujan, keranjang harus cepat ditutupi,” jelasnya. Jika keranjang ero sampai kena air hujan, bilah-bilah bambunya bisa berjamur dan jadi hitam.

Beberapa jenis keranjang yang dijual pedagang di Stasiun Terminal Agribisnis Ngablak.

Pada wage dan pahing, harga tiap keranjang yang dijual Aryani hanya Rp 10 ribu. Sementara pedagang lain yang tetap berjualan pada hari kliwon, legi dan pon, umumnya mematok harga antara Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu perkeranjang ero.

“Kalau wage dan pahing murah, karena pembeli dan penjualnya banyak. Tapi selain itu, kebanyakan hanya penjual sayuran. Barang lain sedikit, makanya mahal,” tuturnya.

Jika sedang ramai atau musim panen, keranjang-keranjang ero yang terjual bisa mencapai puluhan. Tapi diluar masa panen, laku 10 buah saja sudah cukup.

Dusun Pete, kata Aryani, memang salah satu sentra industri keranjang ero di Kecamatan Ngablak. Namun, hampir semuanya pengrajin bermodal kecil, yang hanya membeli bambu semampu mereka.

“Artinya, ketika mereka memiliki uang berlebih dari hasil penjualan ketela, sayur atau jagung, baru mereka akan membeli bambu untuk dibuat keranjang,” paparnya. Kebanyakan pengrajin pun hanya bisa membeli satu atau dua batang bambu, dengan harga sekitar Rp 12 ribu. Bambu yang dipakai untuk kerajinan ini harus dari jenis bambu tali, karena serat dan kelenturannya cocok untuk anyaman.

Umur bambu pun harus diperhatikan. Jangan terlalu tua, jangan pula terlalu muda, karena sama-sama gampang retak ketika dianyam. Sebelum dianyam, bambu harus dijemur lebih dulu selama 2 (dua) atau 3 (tiga) hari.

Setiap batang bambu, bila dianyam bisa menghasilkan 25 hingga 30 keranjang ero, tergantung besar kecilnya bambu. Setiap orang, dalam sehari mampu menganyam sepuluh keranjang. Meski sifatnya sampingan, kegiatan menganyam bambu kadang menjadi andalan ekonomi keluarga, terutama saat menunggu musim panen.

“Untuk mendapatkan bambu yang akan dibuat keranjang ero, banyak yang utang lebih dulu. Utang itu baru dibayar setelah kerajang laku dijual,” terangnya.*

One response to “Jual Keranjang Tiap Wage dan Pahing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s