KSBI, Lahir dari Keprihatinan Seniman

Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (Photo by Sahrudin)

KSBI - Umar Chusaeni (kanan) dan Suyatno, diantara lukisan-lukisan karya perupa KSBI (Komunitas Seniman Borobudur Indonesia).

Hingga awal tahun 2000-an, para pekerja seni di sekitar Candi Borobudur, khususnya yang berada di jalur seni rupa, dianggap masih belum kompak. Mereka hanya akan berkumpul menjelang diselenggarakannya even tertentu, tapi setelah itu bubar sendiri-sendiri. Paguyuban-paguyuban seni yang bermunculan pun seringkali bersifat temporer belaka.

SAHRUDIN, Borobudur

“Kenyataan seperti ini yang mendorong dibentuknya KSBI (Komunitas Seniman Borobudur Indonesia),” kata Umar Chusaeni, seorang pelukis di Borobudur, belum lama ini. Umar juga salah satu perintis berdirinya KSBI.

Candi Borobudur sebagai icon budaya dunia, menurut Umar, semestinya juga diperkuat dengan aktivitas para seniman di sekelilingnya. Sebab tak bisa dipungkiri, daya tarik Borobudur akan memudar tanpa aktivitas berkesenian di sekitarnya. “Harus diingat, yang bikin Candi Borobudur itu kan pada dasarnya seniman juga,” ungkapnya, berpendapat.

Selain Umar, ada beberapa pekerja seni yang turut merintis berdirinya KSBI pada tahun 2003. Mereka adalah Siswantoro Hadi, Adi Winarto dan Yogi Setiawan. Siswantoro Hadi adalah Pimpinan Gusbi (Galeri Unik dan Seni Borobudur Indonesia). Adi Winarto, pengurus Badan Pariwisata Desa Wanurejo.

“Sedangkan Yogi Setiawan, perupa yang kini lebih banyak beraktivitas di Yogyakarta,” jelas Umar. Tambahan kata “Indonesia” di bagian belakang nama kelompok seniman ini, menurut dia, merupakan harapan agar komunitas tersebut juga ikut “meng-Indonesia”.

Kini, KSBI sudah punya “markas” berupa sanggar di Jalan Balaputra Dewa, Borobudur. Tempat yang juga sering dipakai pelatihan seni bagi anak yatim piatu ini, sebenarnya milik Pemerintah Kabupaten Magelang, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya setempat.

Dulunya, lokasi tersebut pernah dipakai para pedagang buah-buahan. Tapi dalam perjalanannya, usaha mereka tidak berkembang seperti yang diharapkan. “Tahun 2006, kami ajukan permohonan untuk mengelola tempat ini sebagai sanggar. Dan disetujui,” imbuh Suyatno, pelukis yang sehari-hari berada di Sanggar KSBI.

Sanggar KSBI Sahrudin

Sanggar KSBI di Jalan Balaputra Dewa, Borobudur.

Mengumpulkan banyak seniman dalam sebuah wadah, kata Umar, bukanlah pekerjaan mudah. Sebab seorang pekerja seni, memang sudah “ditakdirkan” untuk susah diatur. Padahal, bergelut di bidang kesenian, sebenarnya sama saja dengan profesi lainnya. Dunia seni tetap memerlukan pengelolaan yang baik. Entah itu dari sisi estetika, manajemen, termasuk sisi manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

“Justru kiprah para pekerja seni akan terpinggirkan tanpa wadah dan pengorganisasian yang kuat,” tutur Umar.

Dari sisi ekonomi, seorang pekerja seni pun mestinya tidak boleh terlampau egois. Seniman yang egois, menurutnya, ialah yang melulu berharap dimengerti orang lain, yang melulu memikirkan karya-karyanya. “Sementara, mereka sendiri abai terhadap orang lain, termasuk kehidupan dan kebutuhan keluarganya. Seniman dan keluarganya juga butuh kesejahteraan. Manfaatkanlah market Borobudur yang besar ini,” cetus pria kelahiran 6 Mei 1972 ini.

Jumlah pekerja seni yang tergabung dalam KSBI saat ini tercatat 40 orang. Masing-masing datang dari beragam jenis kesenian, seperti sastra, batik dan patung. Namun, seniman lukis masih mendominasi keanggotaan komunitas tersebut. Untuk memacu gairah berkarya para anggota, selalu ada beberapa even yang diselenggarakan dalam setiap tahun.

“Ada tipe, misalnya, pelukis yang baru semangat kalau mau ada pameran. Yang seperti ini banyak, termasuk saya,” jelas Umar, tertawa. Ia sendiri kemudian mengakui, selama tahun 2010 samasekali belum pernah melukis. Padahal, jika sedang mood, ia mampu menciptakan karya minimal 5 buah dalam setahun.

Lukisan karya-karya anggota KSBI kini dapat dijumpai di Sanggar KSBI dan Limanjawi Art Gallery. Di Sanggar KSBI, terpajang sekitar 50 buah lukisan. Sedangkan di Limanjawi Art Gallery tidak kurang dari 200 buah lukisan dalam berbagai ukuran. Kebanyakan peminat lukisan anggota KSBI, justru wisatawan Eropa yang kebetulan sedang berkunjung ke Candi Borobudur.

“Tapi di galeri, mereka biasanya tidak bisa berlama-lama. Lha bagaimana, baru turun dari bus sudah dikejar-kejar pedagang asongan. Pihak guide (pemandu wisata) pun biasanya sudah mengatur jam kunjungan turis. Ke sini sekian menit, ke situ sekian menit,” pungkasnya.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s