Surohmat, 15 Tahun Hidup dengan Kaki Gajah

Photo by Sahrudin

Surohmat, penderita filariasis atau kaki gajah, warga RT 1 RW 1 Dusun Gesing, Desa Krasak, Kecamatan Salaman.

Surohmat tak mampu lagi berjalan seperti orang kebanyakan. Sekarang, berat kaki kirinya saja sudah mencapai 40 kilogram. Ia hanya bisa memakai celana dan sandal yang telah “dimodifikasi” terlebih dulu. 15 tahun lamanya ia hidup bersama penyakit filariasis atau elephantiasis, yang kerap disebut kaki gajah. Karena kondisinya itu, pekerjaan sebagai penyadap nira kelapa dan buruh tani terpaksa ditinggalkannya.

SAHRUDIN, Salaman

Surohmat tinggal di Dusun Gesing RT 1 RW 1, Desa Krasak, Kecamatan Salaman. Memasuki dusun ini, orang harus mau melewati jalan bebatuan yang terjal, berbukit-bukit dan berbelok-belok. Kendaraan roda empat yang masuk, akan dikenai biaya Rp4 ribu (truk) dan Rp2 ribu (mobil biasa).

Di malam hari, dusun berpenduduk sekitar 60 KK (kepala keluarga) itu sangatlah sunyi. Jalanan kampung gelap gulita, karena lampu penerangan nyaris tak tersedia. Di Dusun Gesing, jarak antara rumah yang satu dengan rumah lainnya paling dekat sekitar 10 meter. Banyaknya pepohonan dan perkebunan warga, menjadikan dusun yang berbatasan dengan Desa Mayungsari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo itu lebih mirip belantara.

Ketika MagelangImages bertandang ke rumah Surohmat , ia terlihat sedang menggergaji beberapa batang kayu. Pria berumur 50 tahun itu mengaku tengah mulai menggarap sebuah almari yang dipesan tetangganya. “Ini pekerjaan saya sekarang. Hanya bisa kerja di rumah,” katanya.

Semenjak penyakit kaki gajah bersarang di kaki kirinya, Surohmat memang tidak bisa lagi kemana-mana. Jangankan untuk berjalan beberapa meter, mengangkat kaki pun ia sudah payah. “Berat sekali,” ucapnya.

Ia menyebutkan, penyakit kaki gajah sudah mulai ia rasakan sejak 1995 lalu. Waktu itu, sebuah benjolan sebesar bola pingpong tumbuh di tungkak kaki kirinya. Kerapkali ia merasakan panas, baik di kaki maupun tubuhnya.

Ditemani Sarwiyah isterinya, ia pun mendatangi rumah praktik seorang dokter di Desa Krasak. Oleh dokter tersebut, benjolan itu kemudian disuntik. “Rasanya sakit sekali. Bukannya sembuh, malah tambah besar,” ungkap Surohmat.

Menurut Sarwiyah, dokter yang menyuntik sepertinya belum tahu penyakit apa yang diderita suaminya. “Seingat saya, dokter malah mengira kena penyakit maag,” kata perempuan berumur 47 tahun itu, mencoba mengingat-ingat kata dokter. Surohmat maupun Sarwiyah tidak ingat lagi nama dokter itu.

Karena belum sembuh juga, Surohmat mencoba berobat ke UPT Puskesmas Salaman II. Mengingat terbatasnya peralatan dan tenaga, UPT Puskesmas Salaman II membuat surat rujukan ke RSUD Tidar Magelang. Setali tiga uang, rumah sakit ini pun angkat tangan. Tahun 1999, Surohmat dirujuk ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta. Ia berobat dengan memanfaatkan program JPS (Jaring Pengaman Sosial).

“Saya 4 (empat) kali bolak-balik sana. Terakhir, rawat inap 4 (empat) hari,” ujarnya.

Kendati biaya pengobatan menjadi ringan karena terbantu program JPS, selama perawatan itu ia tetap keluar banyak biaya untuk transportasi dan keperluan lainnya. Pihak RSUP dr Sardjito Yogyakarta, sebagaimana dituturkan Surohmat, sempat menjanjikan operasi untuk menyembuhkan penyakit kaki gajah yang ia derita. Entah kenapa, operasi itu batal dilakukan. Kaki kirinya hanya dibalut, Surohmat diberi obat ala kadarnya, lalu kembali ke Krasak tanpa hasil.

Photo by Sahrudin

Surohmat, menggergaji kayu untuk almari yang dipesan tetangganya.

Kini, Surohmat tidak tahu harus bagaimana lagi supaya penyakit kaki gajah yang ia derita bisa sembuh. Semua upaya sudah ia tempuh, termasuk “berobat” ke paranormal atau dukun. Nasihat paranormal agar ia pindah rumah pun sudah dipenuhinya. “Rumah saya dulu bukan di sini, tapi jarak 2 (dua) rumah dari sini. Saya pindah ke sini karena katanya rumah yang dulu ada penunggunya, yang bikin saya sakit seperti ini,” terangnya. Sekarang, Surohmat, isterinya berikut ketiga anak dan seorang cucunya tinggal di sebuah rumah kayu berukuran 5 kali 9 meter.

Dasirwan, Kepala UPT Puskesmas Salaman II mengatakan, sejak Surohmat terkena kaki gajah tahun 1995 lalu, pihaknya sudah berupaya maksimal memberikan pelayanan. “Karena kami tidak bisa mengatasi, kami buat rujukan ke RSUD Tidar. Dari sana, kemudian ke RSUP dr Sardjito,” ucapnya.

Secara periodik, pihaknya tak pernah telat melakukan sosialisasi pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Aksi gotong royong untuk pemberantasan sarang nyamuk juga digencarkan. Petugas UPT Puskesmas Salaman II sudah rutin memberikan pelayanan dengan mendatangi penduduk di dusun-dusun yang menjadi wilayah kerjanya, dalam jangka sebulan sekali.

Dia menyebutkan, penyakit kaki gajah di wilayahnya hanya ada 1 (satu) kasus, yakni yang diderita Surohmat. “Itu saja sebenarnya kasus lama,” kata Dasirwan, didampingi beberapa stafnya.

Di tempat yang sama, dr Rio Santi dari UPT Puskesmas Salaman II menambahkan, hasil penyelidikan epidemologi dan pemeriksaan darah terhadap Surohmat diketahui sudah negatif. Artinya, kaki gajah yang diderita Surohmat sudah tidak berbahaya lagi. Namun yang harus tetap diwaspadai, penyakit kaki gajah merupakan jenis penyakit menular yang bisa mengakibatkan penderita cacat permanen pada salah satu bagian anggota tubuhnya.

“Penyakit kaki gajah disebabkan infeksi cacing filaria, lalu ditularkan nyamuk anopheles, yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening (limfa) yang mengakibatkan gejala akut dan kronis. Cacing ini secara klinis menimbulkan peradangan di kelenjar dan saluran getah bening, terutama pada daerah pangkal paha,” terang Rio.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Bambang Sugiarto mengatakan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan darah terlebih dulu untuk mengetahui apakah kaki gajah Surohmat masih positif atau sudah negatif. “Karena dulu kan pernah ditangani RSUP dr Sardjito,” jelasnya, ketika dihubungi melalui telepon seluler.

Jika ternyata positif lagi, lanjut Bambang, maka pihaknya akan mengupayakan surat rujukan dengan biaya Jaminan Kesehatan. Kalaupun kemudian hasilnya negatif, menurut dia, kaki gajah yang bersarang di kaki kiri Surohmat sudah tidak bisa dioperasi lagi dan kemungkinan akan tetap besar seperti sekarang. “Yang pokok diobati dan negatif dari cacing filaria,” terang Bambang.

Saat ini, tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang sedang melakukan persiapan pengambilan darah dari kaki Surohmat. Mengingat, pengampilan sampel darah hanya bisa dilakukan di atas jam 11 alam. “Cacing filaria baru aktif pada kurun jam tersebut,” pungkasnya.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s