Mpu “Rasional” Ki Heru Nglawisan

Heru menunjukkan sebagian kodokan atau keris setengah jadi, yang ia datangkan dari Sumenep, Madura.

Belasan tahun menjadi pembuat keris, Ki Heru Nglawisan tetap menganggap keris hanyalah bentuk seni rupa dalam tempa logam. Keris tidak perlu dikait-kaitkan dengan perkara mistik, sebab nilai sebilah keris sepenuhnya ditentukan oleh mutu bahan (kodokan) dan kualitas garapan. Keris adalah karya seni, dan kalau boleh, pengetahuan dan teknologi. Titik.

SAHRUDIN, Muntilan

Seperti pekerjaan lainnya, membuat keris tak lepas dengan keterkaitan emosi. Jika suasana hati sedang nyaman, Heru bisa menyelesaikan sebilah keris tanpa pamor dalam 2 hari. Untuk melengkapinya dengan pamor, ia butuh waktu sekitar 2 minggu. Pamor adalah hal-hal menyangkut bahan pembuatannya, atau teknik pembuatannya, atau pola yang terdapat pada bilah keris.

“Itu kalau waktu dan perhatian benar-benar untuk merampungkan keris saja,” kata pria yang memiliki nama asli Heru Susilarto ini.

Di kalangan pembuat dan penggemar keris, nama “Ki Heru Nglawisan” memang lebih familiar ketimbang nama aslinya. Kata Nglawisan diambil dari nama dusun tempat ia dan keluarganya tinggal sekarang, yakni Dusun Nglawisan, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Photo by Sahrudin

Keris Bali karya Heru. Panjang bilah 40 sentimeter. Pamor: lar gangsir rapet gubahan/plintiran agal. Dapur (bentuk, tipe): parung sari. Kodokan (bahan) dari Sumenep, Madura.

Ukuran keris yang Heru buat umumnya memiliki panjang bilah dibawah 38 sentimeter. Kecuali, keris Bali sepanjang 40 sentimeter yang ia bikin beberapa waktu lalu.

Keris pertama buatan Heru laku Rp 20 juta. “Yang beli kolektor dari Jakarta, tahun 1999,” kata Heru, yang juga pengurus Paguyuban Satriatama, sebuah kelompok penggemar keris di Kabupaten dan Kota Magelang. Jika diminta, ia akan membuatkan sertifikat kerisnya untuk pembeli.

Tahun 1990an, demi berburu keris ia rela keluar masuk desa di Jawa Tengah, sampai perbatasan Jawa Barat dan Jawa Timur. Ia mendatangi dukun, kepala desa, wedana, siapa saja yang kemungkinan masih punya simpanan keris. Keris-keris yang ia dapatkan kemudian diperbaiki dan dijual kembali.

Heru sempat fokus menjadi tukang servis keris di tahun 1996. Kerapkali, ia menerima keris “rusak” seharga Rp 500 ribu. Setelah ia perbaiki, keris tersebut laku dengan cepat di kisaran Rp 3 juta.

Heru menyebutkan, orang yang paham keris seringkali hanya memesan bilahnya saja. Ia akan mengganti sendiri kelengkapannya, dengan bahan-bahan menurut selera, misalnya emas atau gading. Berbeda dengan orang awam yang membeli keris hanya untuk pajangan. Pembeli macam ini, umumnya akan mengambil keris yang sudah komplit dengan warangka (sarung keris) berikut ukir atau gagangnya.

Kepada pembeli yang awam, Heru tak segan untuk mengajari mereka cara memegang keris. Dia jelaskan, tangan kanan memegang ukir atau gagang keris, sedangkan tangan kiri memegangi warangka atau sarung keris. “Tarik warangka, dan tangan kanan tetap diam,” terangnya.

Yang harus diingat oleh pemegang keris, bilah keris tak boleh disentuh atau dipegang dengan jari telanjang, apalagi sedang berkeringat. Meski hanya sedikit, unsur garam dalam keringat akan menyebabkan munculnya karat pada bilah keris. Kalau sampai berkarat, dengan sendirinya nilai pusaka itu bakal turun.

Beberapa pembuat keris memulai pekerjaannya dengan ritual tertentu atau berpuasa terlebih dulu. Namun hal ini tidak berlaku buat Heru. Bapak 3 anak ini menganggap bahwa keris tidak punya sangkut paut dengan urusan gaib. “Keris adalah hasil kerja seni. Itu saja,” tandas lulusan Teknik Sipil UNS Surakarta tahun 1982 ini.

Cerita legenda yang menyebutkan seorang Mpu butuh waktu berbulan-bulan purnama untuk merampungkan sebilah keris, tampaknya tidak terlalu menarik perhatian Heru. Ia lebih memaklumi, lamanya pembuatan keris pada masa silam disebabkan peralatan yang dipakai masih sangat tradisional.

Photo by Sahrudin

Heru, menggerinda bilah keris...

Sudah ratusan keris yang Heru buat sejak awal ia menerjuni usaha ini. Bahan berupa kodokan atau keris setengah jadi, ia beli di Sumenep, Madura dengan harga mulai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta tiap bilah. Meski banyak kodokan berharga Rp 100 ribuan, tapi ia mengaku lebih suka membuat keris yang punya nilai tinggi.

Keris, menurut Heru, tidak punya standar harga. Sebab harga sebilah keris ditentukan oleh muatan nilai seni dan faktor klangenan. Namun demikian, ia sempat pula menyebut angka minimal Rp 5 juta.

Sejak Juli 2007, sebanyak 6 keris buatan Heru sudah menjadi koleksi Museum Neka, Ubud, Bali. Karya-karya lain Heru pun sudah menyebar di tangan belasan kolektor Jakarta, Pekanbaru, Yogyakarta, sampai Swedia, Swiss dan Amerika Serikat.

Kolektor yang sudah lama mengenal Heru, tidak akan pernah memesan keris bergambar binatang dari pria perokok berat ini. Heru memang tidak akan mau membuatkan keris dengan kinatah (motif) makhluk bernyawa. Sebagai seorang Muslim, ia takut pada sejumlah hadits yang menyebutkan larangan berikut ancamannya terhadap orang-orang yang suka mengambar makhluk bernyawa.

“Saya selalu tolak,” ujarnya. Untuk mengerjakan keris-kerisnya, Heru menggunakan peralatan modern seperti gerinda listrik. Ini dia lakukan, bukan lain untuk mempercepat proses pembuatan tiap-tiap keris.

Sebuah karyanya, yaitu Keris Jalak Sangu Tumpeng, berhasil menjadi Juara Favorit pada ajang Award Keris for the World di Jakarta pada 10 Juni 2010. Namun, keris tersebut kemudian justru dibeli oleh rekannya sendiri. “Dia jual lagi ke orang lain Rp 25 juta,” ucap Heru.

Sekarang, Heru sedang menyelesaikan 2 bilah keris yang dipesan oleh seorang kolektor Jakarta, serta pemesan dari Kalimantan dan Yogyakarta masing-masing satu keris. “Yang minta saya buatkan, kebanyakan kolektor atau penggemar keris. Pedagang menganggap harga dari saya terlalu tinggi,” pungkasnya.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s