10 Tahun “Sahabat Perempuan”

Photo by Sahrudin

Dani, Ketua Pelaksana Harian "Sahabat Perempuan". Kantornya, di Dusun Dangean, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Organisasi nonpemerintah pertama di Kabupaten Magelang, yang punya misi menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Dibentuk pada 17 Maret 2010, sempat 3 kali berpindah-pindah kantor. Sahabat Perempuan, lembaga sosial itu, kini bermarkas di sebuah rumah kontrakan yang asri, di Dusun Dangean, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

SAHRUDIN, Salam

Dani, Ketua Pelaksana Harian Sahabat Perempuan, adalah orang ke 4 yang memimpin organisasi nirlaba ini. Sebelum Dani, tercatat nama-nama aktivis yang sempat menduduki posisi tersebut, yaitu Sri Kadaryati, Lusi Mardiani dan Wariyatun.

“Sri Kadaryati sekarang di Dewan Pengurus, Lusi Mardiani jadi aktivis di Yogyakarta, Wariyatun sedang kuliah S2 di Canberra, Australia,” terang Dani, di kantornya, kemarin.

Sahabat Perempuan mengklasifikasikan berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan menjadi 5 macam, yakni KDRT, KDP (kekerasan dalam pacaran), KSA (kekerasan seksual anak) pelsek atau pelecehan seksual, serta perkosaan. Terhadap kasus-kasus tersebut, Sahabat Perempuan mulai aktif melakukan pendampingan sejak 2002.

Di tahun pertama aktifitasnya, organisasi nirlaba ini sudah dihadapkan pada 12 kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dan 7 kasus pelecehan seksual. Ketika itu, Sahabat Perempuan masih diketuai Sri Kadaryati.

Sepanjang kurun waktu 2002 hingga pertengahan 2010 Sahabat Perempuan mencatat, tindak kekerasan terhadap perempuan paling banyak terjadi pada tahun 2006. Di tahun ini, terjadi 67 KDRT, 17 KSA dan 4 kasus KDP. “Total ada 88 kasus. Kebanyakan korban mengalami trauma, baik maupun psikis,” ungkap Dani.

Dari 52 kasus yang ada di tahun 2008, sebanyak 2 orang korban terpaksa dititipkan ke “rumah aman” akibat terus menerus mendapat ancaman dari suami dan keluarganya. Sedangkan 1 orang lainnya, dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof dr Soeroyo karena beberapa kali diketahui mencoba bunuh diri.

Yang menarik, keberadaan “rumah aman” atau shelter tadi sebenarnya belum pernah terpikirkan. Karena menyangkut keamanan dan keselamatan klien KDRT, salah seorang staf Sahabat Perempuan berinisiatif menggunakan rumahnya untuk dijadikan shelter bagi korban.

“Pengawasan terhadap korban, kami lakukan dengan sistem rolling lintas divisi, serta kami libatkan Dewan Pengurus,” kenang Dani.

Selain penanganan dan pemulihan trauma yang dialami korban kekerasan, program pemberdayaan juga dilakukan Sahabat Perempuan dengan upaya-upaya preventif. “Kami punya misi membangun kesadaran publik, untuk menentang segala bentuk kekerasan terhadap perempuan,” tandas Dani.

Untuk mewujudkan misi tersebut, dibentuklah 3 divisi pelaksana harian dalam struktur Sahabat Perempuan: Divisi Pengorganisasian dan Bantuan Hukum, Divisi Informasi, Dokumentasi dan Publikasi, serta Divisi Keuangan. Para aktivis yang kini mengisi ketiga divisi itu, masing-masing Rita Astuti, Naila Zain serta Putri Prabasari.

“Sebenarnya kami masih kekurangan relawan (volunteer). Kalau ada laki-laki yang mau bergabung, kami senang,” tuturnya.

Photo by Sahrudin

Dani, dan angka-angka...

Sebagai sebuah organisasi, Sahabat Perempuan bukannya bebas dari “konflik” internal. Namun, Dani mengaku lebih suka menyebutnya sebagai dinamika ketimbang konflik.

Dinamika yang muncul dari dalam lembaga, lanjut dia, sesungguhnya justru sulit diselesaikan akibat komunikasi yang tidak berimbang. Yang kadang menjadi pemicu, misalnya, persoalan yang sebenarnya harus diselesaikan dalam rapat, justru jadi bahan obrolan di luar forum.

“Ini kan kontraproduktif. Kepentingan organisasi yang seharusnya menjadi prioritas, tanpa disadari, malah teranulir. Lalu ini menjadi gunung es persoalan, yang mengakibatkan kerapuhan dan komitmen perjuangan,” terang Dani.

Dia menyontohkan ketika Sahabat Perempuan sampai memiliki 2 kantor karena oper kontrak selama 6 bulan. Semula, oper kontrak rumah untuk kantor ini dipahami sebagai bentuk solidaritas si pemilik rumah, yang juga salah satu pelaksana harian Sahabat Perempuan. Sehingga, urusan biaya sewa dirasa tak perlu dipikirkan.

Ternyata di kemudian hari, Sahabat Perempuan diharuskan membayar beberapa item biaya operasional. “Terang saja, ini diluar perencanaan. Pembiayaan kantor membengkak melampaui anggaran,” ungkapnya.

Dalam hal pekerjaan, keberadaan 2 kantor itu pun menciptakan efek berupa kurang fokusnya aktivitas kelembagaan. Misalnya, ketika ada klien atau survivor datang ke kantor yang satu, karena sesuatu hal, ia mesti dirujuk ke kantor yang lain.

“Tapi bagi kami, proses-proses ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Pembenahan lembaga menjadi lebih baik, sebagai hasil pembelajaran dari masalah-masalah yang muncul tadi,” ucap Dani.

Untuk memberikan pelayanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan di Kabupaten Magelang, sebenarnya Sahabat Perempuan sudah menempuh langkah nyata. Diawali dengan dibentuknya JAPKA (Jaringan Advokasi Perempuan untuk Keadilan) pada tahun 2002. Kendati sempat konsisten mengusung isu kesetaraan gender dan persoalan kaum perempuan, dalam perkembangannya JAPKA justru melebarkan perhatiannya pada masalah-masalah umum.

Bersama Pemerintah Kabupaten Magelang, Sahabat Perempuan kemudian merintis Layanan Terpadu. Keberadaan program ini disahkan melalui SK (Surat Keputusan) Bupati Magelang. Sejak 2005 hingga 2010, SK tentang Layanan Terpadu ini bahkan sudah mengalami pembaruan sebanyak 4 kali.

“Kami akui, sekarang program Layanan Terpadu ini agak lemah. Kami pernah meminta Pemerintah Kabupaten Magelang untuk memberi honor 1 orang tenaga fultimer saja, mereka tidak sanggup,” terang Dani.

Tahun 2007, Sahabat Perempuan menerbitkan buku berjudul “Surat dari Gunung: Pendampingan Perempuan Korban Kekerasan.” Buku setebal 188 halaman ini berisi kumpulan pengalaman pendampingan yang dilakukan staf dan relawan lembaga tersebut, sejak awal berdiri (tahun 2000) sampai pertengahan 2007.

Diceritakan, suatu hari seorang ibu muda mendatangi kantor Sahabat Perempuan. Ia mengadukan tindakan kasar yang dilakukan oleh suaminya. Tak lama berselang, suami perempuan itu menyusul. Namun justru Dani yang jadi sasaran. Ia dicaci-maki, hingga terpaksa menelpon petugas Polsek Salam agar laki-laki yang memaki-makinya pergi.

“Sebagai aktivis di lembaga sosial, perempuan memang bisa habis-habisan. Entah itu waktu, perhatian bahkan dana pribadi untuk berbagai kegiatannya,” ungkap Dani. Sepanjang 10 tahun perjalanannya, sebagaimana dituturkan Dani, Sahabat Perempuan sebenarnya masih punya banyak “PR”.

Di bidang pendidikan misalnya, kesenjangan antara perempuan dan lelaki nyatanya masih ada. Meski partisipasi perempuan dalam pendidikan sudah membaik, namun jumlah perempuan dalam pendidikan tinggi masih lebih sedikit daripada lelaki.

“Tak heran, profesi tertentu, seperti peneliti misalnya, juga masih didominasi lelaki karena kesempatan bersekolah masih lebih sedikit bagi perempuan,” tandasnya.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s