Tuhan, Sembuhkan Ali dan Lukman…

Photo by SahrudinMuhammad Ali Arsyadani (15) dan Muhammad Lukman Hakim (19) divonis lumpuh permanen seumur hidup. Adik dan kakak itu pun tak punya pilihan, selain tergolek lemah di atas kasurnya. Dalam kondisi demikian, mereka tetap berpuasa sebulan penuh selama Ramadhan. Ali dan Lukman teratur menjalankan puasa tiap Hari Senin dan Kamis, dan menunaikan sholat 5 waktu dengan cara terlentang.

SAHRUDIN, Salam

Paralisis akut mendadak (acute flaccid paralysis) atau yang kerap disebut lumpuh layu, begitulah nama penyakit yang menjangkiti kakak beradik warga Dusun Pulosari RT 01 RW 12 Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang itu. Istiqomah dan Abdul Ghoni, orangtua Ali dan Lukman, sudah maksmimal mengupayakan kesembuhan bagi kedua anaknya. Mereka sampai lupa, berapa belas atau berapa puluh kali dokter dikunjungi, baik di klinik, rumah sakit maupun rumah praktik pribadi.

“Kami bukannya menyerah. Hanya saja kami merasa sudah berusaha kesana kemari. Saya yakin, Tuhan hanya belum memberikan kesembuhan bagi mereka,” ucap Istiqomah, ketika dijumpai di rumahnya, Sabtu (9/10).

Pengakuan Istiqomah dibuktikan dengan lembaran-lembaran hasil pemeriksaan dokter. Salah satunya, bukti pemeriksaan oleh Instalasi Radiologi RSUP dr Sardjito Yogyakarta, tertanggal 2 Juli 2002. Untuk kasus Ali dan Lukman, dokter menyebut kedua pemuda itu menyimpan gen yang menimbulkan lumpuh layu. Setiap kali periksa, dokter hampir tak pernah memberikan resep obat. Di Magelang, tidak tersedia jenis obat untuk penyakit yang diderita kedua pemuda itu.

Akibatnya, kini Ali dan Lukman hanya bisa tergolek lemah melewatkan hari-harinya di atas selembar kasur. Untuk duduk, Ali suka menggunakan kedua lengan untuk menopang badannya. Lukman bisa duduk bersandar, tapi sebentar-sebentar minta tolong ibu atau bapaknya untuk memperbaiki posisi duduknya. “Kalau sudah selesai mengurusi anak-anak, saya menjahit. Suami kerja jadi office boy,” kata Istiqomah, menyebut sebuah dealer sepeda motor di Muntilan.

Istiqomah menuturkan, gejala lumpuh layu sebenarnya sudah diketahui bersarang di tubuh Ali dan Lukman saat mereka berumur 7 tahun. Dan 3 tahun kemudian, Ali dan Lukman benar-benar sudah tak punya tenaga untuk bergerak. Seorang dokter di RSUP dr Sardjito memperkirakan, Ali dan Lukman akan lumpuh pada usia 12 tahun. Namun ternyata, bencana itu justru terjadi lebih awal. “Kalau mau apa-apa, saya atau suami yang membantu mereka. Makan, mandi, BAB (buang air besar), berpakaian, semuanya,” ujar Istiqomah.

Kendati setiap hari harus merawat seluruh kebutuhan mereka, namun Ghoni sang ayah tetap terlihat tegar. Ia mengaku bisa menerima kondisi fisik anaknya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. ”Mereka anak-anak saya. Saya ikhas menerima mereka. Bahkan jika ada rumah sakit yang didirikan khusus anak-anak seperti itu saya siap mengabdikan hidup saya,” kata Ghoni.

Meski mengalami gangguan fisik, kondisi mental Ali dan Lukman tetap sehat. Daya ingat mereka tergolong tajam. Ali dan Lukman seringkali mengisi hari-harinya dengan membuat robot-robot kecil dari kertas karton. Sudah berbotol-botol lem mereka habiskan untuk membuat mainan kertas itu. Keduanya suka menggambar apa saja pada buku-buku kosong yang disediakan orangtua mereka. Buku-buku yang masih baru, bertumpuk pada kayu jendela, di dekat kasur mereka.

Menonton televisi juga menjadi bagian dari aktivitas kakak beradik itu. Mereka paham berita apa saja yang sedang hangat saat ini. Baik Ali maupun Lukman suka melihat pertandingan sepakbola. “Idola saya Bambang Pamungkas dan Zinedine Zidane,” kata Lukman. Sedangkan Ali, mengaku tak punya idola.

Maulida Shofiana, saudara Ali dan Lukman menuturkan, ingatan dan daya tangkap mereka sangat baik. Maulida sendiri mengaku kalah jauh. “Mereka tahu persis berita-berita di televisi termasuk kekalahan telak Timnas Indonesia melawan Uruguay. Mereka ikut sedih,” ujar Maulida.

Seperti ibunya, Ali dan Lukman berkulit kuning langsat. Menurut Istiqomah, kebiasaan buruk seperti meludah sembarangan, tidak dilakukan kedua anaknya. Sebuah sisir tergeletak tidak jauh dari tempat mereka berbaring, menandakan keduanya masih bisa berusaha tampil rapi. Saat diajak bicara, Ali dan Lukman selalu nyambung.

Yang membuat Istiqomah dan Abdul Ghoni terharu, kedua anak mereka ternyata selalu mampu berpuasa sebulan penuh selama Ramadhan. Bukan hanya itu, Ali dan Lukman pun teratur menjalankan puasa tiap Hari Senin dan Kamis. Dengan cara terlentang, Ali dan Lukman menunaikan sholat 5 waktu.

Sementara itu, Joko Sudibyo, tokoh masyarakat Desa Jumoyo mengatakan, ada Bazis (Badan Zakat, Infak, dan Sodakoh) yang setiap bulan bisa mengumpulkan dana Rp 6,7 juta dari masyarakat. Dana ini digunakan untuk membantu fakir miskin, beasiswa siswa berprestasi dan membantu pengobatan warga tidak mampu.

”Dana zakat dan infak untuk membantu Ali dan Lukman sudah terkumpul Rp 5 juta. Semoga lewat pemberitaan ini, nantinya ada orang yang bisa memberi informasi di mana kami bisa mencari pengobatan,” tutur Joko.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s