Telah Berpulang, Nyai Hamimmah Zainab Dalhar

Mengasuh pondok pesantren sejak tahun 1956. Seperti sang suami yang lebih dulu mendahuluinya, sepanjang hidup ia dikenal dekat dengan berbagai lapisan umat. Kemarin, sebelum jasadnya dimakamkan, tak kurang dari 10 ribu pentakziah berebut melakukan shalat jenazah untuknya. Nyai Hamimmah Zainab Dalhar, meninggal dunia dalam usia 82 tahun.

SAHRUDIN, Muntilan

Photo by Sahrudin

Suasana menjelang pemakaman Nyai Hajjah Hamimah Dalhar, Pengasuh Pondok Pesantren Puteri Addalhariyah, Dusun Watucongol, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Senin siang (18/10).

Umat Islam, terkhusus warga Magelang, kembali kehilangan salah satu tokoh panutannya. Nyai Hamimmah Zainab Dalhar, Pengasuh Pondok Pesantren Puteri Addalhariyah, Dusun Watucongol, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, berpulang pada Minggu malam (17/10).

Nyai Hamimah adalah isteri kedua alm KH Dalhar, sekaligus ibu tiri KH Ahmad Abdul Haq atau yang akrab disapa Mbah Mad Watucongol. Keduanya merupakan ulama besar di Magelang. Dari pernikahannya dengan KH Dalhar, Nyai Hamimah dikaruniai seorang puteri bernama Nurhannah.

“Nyai Hajjah Nurhannah ini yang sepertinya nanti meneruskan mengasuh pesantren,” kata Suroji, pentakziah dari Dusun Krakitan, Desa Gulon, Kecamatan Salam.

Nyai Hamimah meninggalkan sebanyak 450 orang santriwati yang tengah menimba ilmu di Pondok Pesantren Puteri Addalhariyah. Kepergiannya yang hanya berjarak 100 hari dari meninggalnya KH Ahmad Abdul Haq, tentu saja menyisakan duka mendalam bagi keluarga maupun jamaah di pondok pesantren itu. Tak sedikit pentakziah meneteskan air mata.

Photo by SahrudinSelama hidup, Nyai Hamimmah Dalhar memang dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan kharismatik. Tidak mengherankan, lebih dari 10 ribu pentakziah datang dari berbagai daerah. Kebanyakan diantara mereka berusaha melakukan shalat jenazah berjamaah, lalu mengiringinya menuju peristirahatan terakhir.

“Banyak yang sudah datang mulai jam 7 pagi,” lanjut Suroji.

Karena banyaknya jamaah yang ingin melakukan shalat jenazah Nyai Hamimah itulah, pengurus pesantren dan pihak keluarga memutuskan untuk menggilir shalat jenazah sebanyak 23 kali.

Para kyai yang menjadi imam dalam shalat-shalat jenazah tersebut, yaitu KH Syafa’at (Salaman), KH Abdul Haq (Mertoyudan), KH Syamsul Rois (Salatiga), KH Afif Ridwan (Bandongan), KH Ali As’ad (Yogyakarta), KH Said Asrori (Magelang) dan Raden Asnam Muhaimin dari Salam Kanci, Bandongan.

Photo by SahrudinSuasana di sekitar kediaman almarhumah dan pesantren, begitu padat siang itu. Untuk menertibkan para pentakziah, pengurus pesantren mengingatkan melalui mikropon agar mereka berlaku sabar, dan tidak mendesak-desak pentakziah lainnya.

“Silakan masuk lewat pintu utara. Yang sudah selesai shalat jenazah keluar lewat pintu selatan, biar lancar, tidak suk-sukan (berdesak-desakan),” terdengar suara tegas seorang pria dari mikropon.

Pintu masuk dan keluar dari ruangan shalat jenazah dibuat terpisah antara laki-laki dan perempuan. Kesempatan untuk melakukan salat jenazah baru berakhir tepat pada pukul 11.00 WIB. Para takziah yang tidak mendapat kesempatan melakukan salat jenazah Nyai Hamimmah, harus rela shalat ghaib saja di rumah masing-masing, dengan keluarga atau kerabatnya.

Sejumlah tokoh pemerintahan yang hadir diantaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, Kepala Polres Magelang AKBP Kif Aminanto, Kepala Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Magelang Drs Asfuri Muhsis Msi, Ketua DPRD Magelang Susilo SPt serta pejabat lainnya. Ulama sekaligus budayawan KH Yusuf Chludori, terlihat berada di antara beberapa kiai sepuh.

Di sebuah sudut halaman, terlihat karangan bunga yang dikirim oleh beberapa petinggi, mulai dari kepolisian, instansi pemerintah lainnya, hingga perusahaan dan perbankan swasta.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada umat Islam yang telah memberikan perhatian yang besar kepada almarhumah. Kami mohon doa, semoga amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT, dosa-dosa belia mendapat ampunan,” kata Hajjah Nurhannah, puteri almarhumah.

Photo by SahrudinDalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih yang mewakili kalangan pemerintahan, menyebutkan bahwa almarhumah merupakan sosok perempuan yang tangguh dan mampu memimpin umat. Rustriningsih mengaku secara khusus datang ke Magelang, untuk bertakziah dan memberikan penghormatan terakhirnya atas jasa-jasa Nyai Hamimmah Dalhar.

Mantan Bupati Kebumen 2 periode ini bahkan terlihat mengikuti keseluruhan prosesi hingga pemakaman usai. “Banyak pelajaran yang bisa kita peroleh dengan belajar dari beliau,” ucap Rustriningsih.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s