Gunung Wukir: Mau Lihat Candi, Harus Siap Ngos-ngosan

Tak ada tempat khusus parkir. Yang naik sepeda motor, yang memakai roda empat, sama-sama harus menitipkan kendaraan di halaman rumah penduduk Dusun Carikan. Lalu, pengunjung harus berjalan kaki melewati perkebunan milik warga, menyeberangi sebuah jembatan sepanjang 15 meteran, dan siap ngos-ngosan mendaki bukit lewat jalan setapak sejauh setengah kilometer.

SAHRUDIN, Salam

Photo by Sahrudin

Juru pelihara dan petugas perlindungan membersihkan Candi Gunung Wukir dari abu vulkanik dan pasir akibat letusan Merapi, kemarin.

Candi Gunung Wukir dikelola Balai Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Gugusan candi tersebut dibangun Raja Sanjaya pada tahun 732 Masehi, di puncak Bukit Wukir di Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam. Dari berbagai sumber, desa di bukit tersebut dulu diperkirakan bernama Kunjara Kunja. Areal persawahan yang kini mengelilingi Bukit Wukir itulah yang dulu merupakan desa purba Kunjara Kunja itu.

“Di sawah-sawah itu pernah ditemukan lesung batu dan peralatan rumah tangga lain dari batu. Sangat besar kemungkinan bahwa areal persawahan itu dulunya adalah sebuah desa,” kata Surahman, juru pelihara Candi Gunung Wukir.

Untuk merawat warisan sejarah itu, Balai Peninggalan Purbakala Jawa Tengah mempekerjakan 3 juru pelihara dan 2 petugas perlindungan. Surahman, Supriyo dan Widodo sebagai juru pelihara, sedangkan Suparman dan Witono sebagai petugas perlindungan, atau yang umum disebut satpam. “Tapi kalau tugas bersih-bersih, kita semua harus terlibat. Tidak ada beda juru pelihara dengan petugas perlindungan,” ujar Suparman, yang siang itu sedang sibuk membersihkan batu-batu candi dari abu vulkanik Merapi.

Photo by SahrudinSecara keseluruhan, kompleks Candi Gunung Wukir memiliki luas 2.550 meter persegi. Candi ini terdiri dari sebuah candi utama atau candi induk berukuran 155 sentimeter dan lebar 85 sentimeter, berikut 3 candi perwara di depannya. Cirikhasnya sebagai candi Hindu ditandai dengan adanya yoni dan arca Nandi atau lembu. Namun, lingga buatan Raja Sanjaya sebagaimana disebut-sebut dalam prasasti Canggal, sudah tidak ada lagi sejak penemuan tahun 1938. Prasasti Canggal yang ditemukan dan beberapa arca penting kini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta.

Demi alasan keamanan, sebuah batu berbentuk kubus memanjang berukir wajah Buta Kala, disimpan di dalam kantor juru pelihara Candi Gunung Wukir. “Batu purba dengan ukiran Buta Kala ini, adalah satu-satunya relief yang kualitas ukirannya masih bertahan paling baik dari Candi Gunung Wukir. Ukiran atau relief di bagian lain sudah pada rusak. Kalau diletakkan di luar, kami meragukan keamanannya,” terang Suparman, petugas perlindungan atau satpam candi tersebut.

Letusan besar Merapi tanggal 3 dan 4 Nopember lalu, menyebabkan bambu dan pepohonan besar bertumbangan di Bukit Wukir. Berhari-hari, orang tak dapat melalui jalan setapak yang ada di bukit tersebut. Warga dan para pekerja di Candi Gunung Wukir bergotong-royong menyingkirkannya. Batang-batang pohon dan bambu bisa dibersihkan dalam waktu 5 hari.

Menurut buku tamu, pengunjung Candi Gunung Wukir rata-rata haya satu orang setiap bulan. Magelang Ekspres yang datang tanggal 24 adalah pengunjung pertama di Bulan Nopember ini. Para juru pelihara maupun petugas perlindungan menyebutkan, kebanyakan pengunjung Candi Gunung Wukir justru para peneliti yang berasal dari luar negeri. “Wisatawan lokal sepertinya kurang tertarik dengan bentuk candi dan medan yang seperti ini,” kata Surahman.

Photo by SahrudinRaja Sanjaya menang perang, dan menggantikan Sanna pamannya sebagai penguasa Kerajaan Mataram Hindu. Ia yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, kemudian mendirikan lingga di puncak bukit setinggi 335 meter. Lebih dari 1.200 tahun kemudian, gugusan bukti sejarah itu ditemukan dalam keadaan rusak, tertimbun material vulkanik Gunung Merapi. Kini, peninggalan Sanjaya itu dikenal dengan nama Candi Gunung Wukir.

Salah satu sumber yang menyebutkan bahwa Candi Gunung Wukir ditemukan sebelum tahun 1938, adalah buku berbahasa Belanda “Herstel in Eigen Waarde: Monumentenzorg in Indonesie” yang ditulis Professor August Johan Bernet Kempers (1978). Pada halaman 116 dan 118, gambar nomor 62 dan 63, terdapat 2 buah foto masing-masing dengan keterangan: Gunung Wukir, ontgraving en gedeeltelijke wederopbouw van een bijtempel, 1938. Terjemahan bebasnya kira-kira: Gunung Wukir, Penggalian dan Rekonstruksi Parsial di Sebuah Candi, 1938.

Pada kedua potret hitam putih karya Kempers tersebut, tampak kondisi Candi Gunung Wukir yang masih berantakan, terutama batu-batunya yang berserakan. Di bagian tenggara candi masih terdapat sebuah gubuk bambu, dengan atap sejenis rumput gajah atau mungkin daun kelapa. Sedangkan pada foto lainnya, terlihat sebuah pohon besar berdiri di sebelah barat daya candi. Sekarang, tentu saja gubuk bambu itu sudah tak ada lagi. Sementara pohon besar sebagaimana tampak dalam foto, entah tahun berapa ditebang.

Kempers merupakan sejarawan budaya dan arkeolog kelahiran Belanda pada 1906. Namun, ketika baru berumur beberapa bulan, orangtua Kempers memboyongnya ke Indonesia. Di negeri ini, nyatanya Kempers betah tinggal selama 50 tahun. Ia pernah bekerja sebagai pustakawan di Museum Nasional di Jakarta, hingga menjadi Direktur Balai Arkeologi Jogjakarta. Hasil-hasil penelitian yang pernah ia lakukan, setidaknya tertuang dalam 5 buku khusus mengenai arkeologi dan sejarah budaya Indonesia.

“Candi ini sebenarnya punya peran yang sangat penting untuk mengurai mata rantai perjalanan kekuasaan Raja Sanjaya,” kata Widodo, salah satu petugas juru pelihara Candi Gunung Wukir, kemarin. Alasan dia, pernyataan-pernyataan penting dari Raja Sanjaya tertuang dalam prasasti Canggal (tahun 654 Saka/732 Masehi) yang ditemukan di Candi Gunung Wukir. “Diperkirakan, prasasti Canggal adalah tulisan terakhir Sanjaya sebelum kekuasaannya sebagai Raja Mataram Hindu berakhir karena wafat,” lanjut Widodo.

Photo by SahrudinNamun ia menambahkan, beberapa sumber lain justru menyebutkan bahwa prasasti Canggal dibuat tatkala Sanjaya baru saja didaulat menjadi penguasa Mataram Hindu di Jawa menggantikan Raja Sanna yang tewas di medan perang. Pendapat yang ini didasarkan bahwa Sanjaya lahir tahun 717 Masehi dan meninggal pada 746 Masehi. “Yang jelas, prasasti Mantyasih yang juga ditemukan di Magelang, bertanda tahun 907 Masehi. Jadi prasasti Canggal di Candi Gunung Wukir lebih tua 200 tahun. Bahwa Sanjaya kemudian bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, itu baru disebut di prasasti Mantyasih,” ujar Surahman, juru pelihara Candi Gunung Wukir lainnya.

Tersirat dalam prasasti Canggal, Raja Sanjaya dipersamakan sebagaimana Raghu yang telah menaklukkan raja-raja yang mengelilinginya. Kebesaran Raja Sanjaya dilukiskan bagaikan Meru yang menjulang tinggi, kaki-kakinya diletakkan jauh di atas kepala raja-raja yang lain. Selama ia memerintah, dunia bagaikan berikat pinggang samudra dan berdada gunung-gunung. “Betapa kokoh sebuah negara bernama Mataram Hindu di tangan Sanjaya,” ucap Surahman.*

2 responses to “Gunung Wukir: Mau Lihat Candi, Harus Siap Ngos-ngosan

  1. sy yg rmhnya cmn 3km dr canggal aja bru 1x kesana thn 95, rata2 penduduk kampung sy jg belum prnah kesana,
    bangsa ini mmg suka melupakan sejarah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s