Borobudur Bangkit!

SAHRUDIN, Borobudur

Puluhan pekerja seni yang tergabung dalam berbagai komunitas menggelar aksi teatrikal bertema “Borobudur Bangkit”, Jumat sore (3/11). Pertunjukan diawali dengan pawai dari Terminal Borobudur menuju Lapangan Desa Wanurejo di depan Hotel Pondok Tingal, Kecamatan Borobudur.Photo by Sahrudin

Para pekerja seni yang turut dalam kegiatan itu berasal dari kelompok seniman kontemporer KSBI (Komunitas Seniman Borobudur Indonesia), Tanker atau Tim Anti Kekerasan Borobudur, Kelompok Jingkrak Sundang Saujana serta Klaster Pariwisata Borobudur.

Di barisan terdepan, 3 peserta membawa bentangan spanduk bertuliskan “Borobudur Bangkit, Welcome to Borobudur”. Di belakang mereka ada Jay dan Xilona, sepasang mahasiswa Inggris yang ikut melumuri seluruh tubuhnya dengan cat.

Photo by SahrudinBerturut-turut, seniman yang memakai rambut gimbal palsu lengkap dengan sepasang tanduk banteng dari kertas. Belasan remaja dari Paguyuban Pencak Silat Borobudur dan Kelompok Seni Barongsai dari Taman Kyai Langgeng Kota Magelang, juga terlihat turut dalam pawai kesenian itu. Sementara di barisan paling belakang, 2 kereta mini dari Taman Wisata Candi Borobudur yang berjalan beriringan.

Haris Kertorahardjo, penggagas acara tersebut mengatakan, “Borobudur Bangkit” dimaksudkan untuk menghidupkan kembali aktivias berkesenian dan perekonomian di Candi Borobudur dan sekitarnya. Dalam sebulan terakhir, nasib berbagai kalangan yang selama ini menggantungkan hidup dari Candi Borobudur mengalami keterpurukan akibat erupsi Gunung Merapi.

Photo by Sahrudin“Para seniman kemudian tergerak untuk bikin acara yang mudah-mudahan dapat kembali memicu geliat beragam aktivitas di Borobudur,” tutur Haris, ditemui di Cafe Pondok Tingal.

Pertunjukan “Borobudur Bangkit” sekaligus juga sebagai acara penutupan program “Makan Siang Gratis” yang disponsori APGAI atau Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia. Program amal ini telah dimulai sejak tanggal 25 Nopember lalu.

“Pendapatan para pedagang, petani atau siapa saja selama ini, kita tambal sedikit dengan makan siang gratis. Anak-anak sekolah, pulang sekolah bisa makan di sini,” lanjut Haris, yang seorang kontraktor sekaligus kolektor benda seni di Dev’s Antique Jogjakata.

Umar Chusaeni, seniman dari KSBI mengatakan, geliat perekonomian di sekitar Candi Borobudur bisa dipulihkan dengan banyak cara. “Pariwisata, seni dan budaya serta perekonomian itu sesungguhnya satu ikatan. Kalau acara semacam ini terselenggara secara teratur, lalu banyak orang tertarik menonton, wisatawan datang, kebaikannya juga akan dirasakan banyak warga di sini,” jelas Umar.

Photo by SahrudinSedangkan Jay dan Xilona, 2 mahasiswa University of Kent London Inggris yang turut dalam aksi teatrikal itu mengatakan, kedatangannya ke Borobudur sebenarnya dalam rangka penelitian di hutan Puntuk Setumbu Borobudur. Di perguruan tinggi itu, Jay dan Xilona mengambil Jurusan Wild Conservation atau Konservasi Kehidupan Liar. Sepasang kekasih ini sudah berada di Borobudur selama 6 minggu.

Aksi teatrikal “Borobudur Bangkit” semula akan diadakan siang hari sekitar pukul 13.00 WIB. Namun karena hujan, kegiatan sosial itu baru dimulai selepas jam 3 sore. Di tengah genangan air hujan di Lapangan Desa Wanurejo, para seniman yang terlibat dalam acara itu menari-nari dan bermain-main layaknya anak-anak. “Di tengah bencana, kita memang tetap harus bergembira,” seru Umar Chusaeni melalui pengeras suara.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s