“Sangu” dari Gus Yusuf untuk Pengungsi

SAHRUDIN, Mertoyudan

MENGUNGSI bukan berarti menghindari kematian. Sebab, kematian adalah takdir yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Mengungsi adalah bagian dari ikhtiar yang memang sudah seharusnya dilakukan manusia, agar bisa bertahan dan melanjutkan kehidupan.

Photo by Sahrudin“Seperti ketika Rasululah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, untuk mengatur strategi menghadapi Abu Jahal,” tutur KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang kerap disapa Gus Yusuf, di Wisma Nugraha Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kamis malam (2/12).

Di depan sekitar seribu jamaah yang terdiri dari pengungsi dan warga Desa Banyurojo dan sekitarnya, Gus Yusuf membagi pengetahuannya tentang banyak hal menyangkut bencana Merapi.

“Kita tidak boleh suudzon atau berburuk sangka kepada Allah SWT. Banyak hikmah yang bisa kita petik, kalau kita benar-benar merenungkan,” lanjut pria kelahiran 9 Juli 1973 ini.

Katanya, niatkan saja bahwa mengungsi ibarat masuk pondok pesantren, atau bermuhasabah. Mengungsi adalah belajar tentang banyak hal.

Photo by Sahrudin“Dulu di dusun asal, kita neng-nengan (tidak rukun) dengan tetangga. Sekarang, di pengungsian, kita dijadikan oleh Allah tinggal dalam satu rumah. Merapi ciptaan Allah, kita ciptaan Allah. Merapi itu saudara kita. Kalau Merapi sedang marah, kita mengalah dulu. Nanti kalau sudah lerem (tenang) kita berbaikan lagi,” ucapnya.

Berbagai kejadian selama letusan Merapi, dikemas Gus Yusuf dalam bahasa yang komunikatif dan menggelikan. “Sekarang, pohon kelapa saja bersedekap. Tanaman salak sujud semua. Kok manusia masih saja gembelengan (bebal, pongah, bergaya),” ujar ulama yang aktif dalam banyak organisasi dan komunitas ini.

Tentu saja, perumpamaan yang ia sebutkan mengundang tawa warga dan pengungsi yang datang dari Dusun Babadan, Desa Paten, Kecamatan Dukun ini. “Saya dengar, orang Babadan dan orang Banyurojo keturunan bangsawan semua, bangsane tangi awan (golongan orang yang selalu bangun siang),” cetus Gus Yusuf.

Photo by Sahrudin“Pak, Bu, kalau mau Merapi tidak  mau meletus lagi, yang 5 waktu jangan tertinggal. Bangun pagi, jangan siang. Ajari putra-putri mengaji. Dalam Alquran, Allah janji, gunung akan tunduk kalau makhluk Allah rajin mengaji,” kata Gus Yusuf.

Ia kemudian mengutip Quran Surat Alhasyr ayat 21: “Kalau sekiranya Kami turunkan Alquran ini di atas sebuah gunung, niscaya akan kalian lihat gunung itu tunduk karena takut kepada Allah,” ungkapnya.

Dia menuturkan gunung api yang aktif di Indonesia ada 19. Kalau mau, Allah bisa saja meletuskan semuanya secara bersamaan. “Allah yang pegang remote-nya. Tinggal pencet, Merapi meletus. Pencet lagi, Bromo meletus,” papar Gus Yusuf, yang membuat para jamaah tertawa lebar.

Photo by SahrudinIa katakan juga, orang Indonesia baru mau sedekah kalau sudah ada musibah. Padahal, jelas Gus Yusuf, sedekah dilakukan agar manusia terhindar dari berbagai bentuk musibah.

Oleh panitia, pengajian yang baru dimulai sekitar pukul 21.20 WIB itu diberi judul “Tabligh Akbar Sareng Gus Yusuf Kagem Sedherek Lereng Merapi” atau Tabligh Akbar Bersama Gus Yusuf Untuk Saudara-saudara dari Lereng Merapi.

Di Wisma Nugraha Desa Banyurojo, hingga saat ini memang masih terdapat sekitar 100 pengungsi dari Dusun Babadan, Desa Paten, Kecamatan Dukun. Mereka rencananya baru akan kembali ke rumah masing-masing pada Minggu siang (5/12).

“Apa yang disampaikan Gus Yusuf, mudah-mudahan dapat menjadi bekal rohani bagi saudara-saudara kita, sekembalinya dari pengungsian nanti,” kata Agus Firmansyah, Ketua Panitia Tabligh Akbar. Agus mengatakan, panitia hanya mempersiapkan acara tersebut selama 3 hari 2 malam. “Ini semua serba mendadak. Dana sangat minim, tapi banyak pihak yang bantu,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pihak-pihak yang turut mewujudkan Tabligh Akbar tersebut, yaitu Media Ndeso (komunitas organizer, videografer dan fotografer Desa Banyurojo), Kelompok Seni Rebana An-Nahl dari Dusun Saragan, tim relawan dari Unnes (Universitas Negeri Semarang), serta Pemerintah Desa Banyurojo.

“Seorang warga Dusun Kranggan meminjamkan sound system, warga Dusun Saragan dan petugas keamanan membuat acara lancar, semua ikut berperan,” kata Agus, yang juga Kepala Urusan Keuangan Pemerintah Desa Banyurojo.

Photo by SahrudinIa juga mengucapkan terima kasih kepada Harian Magelang Ekspres yang sudah memberikan bantuan dan membagi-bagi koran gratis kepada para peserta Tabligh Akbar.

Sebelum Tabligh Akbar berakhir, Gus Yusuf mengajak para jamaah bershalawat. Pada saat yang sama, beberapa relawan mengedarkan kardus kepada hadirin untuk mengumpulkan dana amal bagi para pengungsi Merapi dari Dusun Babadan.

Begitu terkumpul, uang sebesar Rp 870.700, – hasil sumbangan para jamaah Tabligh Akbar langsung diserahkan oleh Mudrikah, Kepala Desa Banyurojo kepada perwakilan pengungsi.*

3 responses to ““Sangu” dari Gus Yusuf untuk Pengungsi

  1. Ndilalahe kok pas ana acara, njuk ora ngrungokake…(padal pengening ati weruh langsung rupane gus Yusuf)…. Seprene mung iso ngrungokake suarane saka radio……oalah, jan mbelgedhes

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s