Candi Ngawen, Sepi…

Sudah lama Kabupaten Magelang dikenal karena candi-candinya. Kenyataan ini membuktikan, daerah ini pernah menjadi pusat peradaban manusia selama berabad-abad lampau.

SAHRUDIN, Muntilan

Photo by SahrudinCANDI Ngawen, sebuah candi Buddha yang terletak di Dusun Ngawen, Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, memang tidak terlalu akrab di telinga kebanyakan orang. Meski, katakanlah, di telinga orang Magelang sendiri.

Karena faktor lokasi, masyarakat umumnya lebih mengenal Candi Borobudur, Candi Mendut maupun Candi Pawon. Pengunjung biasanya hanya akan bertemu dengan segelintir orang di candi itu, sekalipun pada saat musim liburan tiba.

Selain para juru pelihara dan petugas perlindungan, yang sehari-hari berada di Candi Ngawen hanyalah beberapa anak Dusun Ngawen yang sedang bermain-main diantara bebatuan candi.

“Candi Ngawen belum menjadi tujuan wisata,” kata Sumedi, koordinator juru pelihara Candi Ngawen.

Berdiri di atas lahan seluas 3.556 meter persegi, Candi Ngawen seolah terjepit diantara lahan pertanian dan permukiman warga. Pepohonan kelapa berdiri di sekitar kawasan yang terdiri dari 5 candi kecil itu.

Di lokasi peninggalan sejarah ini, pengunjung sebenarnya bukan hanya akan disuguhi pemandangan candi. Mereka juga bisa menikmati panorama kehidupan di dusun kecil itu.

Namun bagi wisatawan, alasan utama mereka tidak mengunjungi Candi Ngawen adalah, karena candi tersebut tidak berada di jalan utama, atau lokasinya yang kurang strategis.

Photo by SahrudinBagi pengunjung luar daerah, terlebih yang baru pertama kali datang ke Kabupaten Magelang, mereka mau tak mau harus beberapa kali bertanya soal letak Candi Ngawen. Sekalipun, ia sudah memegang peta.

Dari jalan utama di Muntilan Kota, kendaraan harus berkali-kali berbelok. Belum tentu ada penunjuk arah di setiap tikungan.

“Masyarakat lokal sudah tahu Candi Ngawen sejak zaman Belanda,” lanjut Sumedi.

Ia lantas menyebut hasil penelitian yang dilakukan oleh Holpermand, seorang arkeolog berkebangsaan Belanda, pada tahun 1874. Setelah Holpermand, beberapa arkeolog Belanda juga pernah mencoba memecahkan misteri candi tersebut.

Pada tahun 1911, Van Erp menyebutkan bahwa Candi Ngawen hancur akibat letusan Gunung Merapi. Candi itu pertama kali ditemukan dalam keadaan tertutup dengan pasir hingga setebal 2 meter.

Teori ini dianggap masuk akal, sebab Candi Borobudur yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Candi Ngawen juga tertutup pasir akibat letusan Gunung Merapi.

Arkeolog Belanda lainnya, PJ Perquin, meneliti Candi Ngawen pada tahun 1925. Hebatnya, ia berhasil menyusun dan mengembalikan wujud salah satu dari kelima candi yang ada.

Sementara 4 buah candi lainnya, hingga saat ini tetap dibiarkan dalam kondisi yang jauh dari sempurna. Kelima candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke 8 atau 9 Masehi itu sama-sama menghadap ke arah timur.

Dilihat sepintas, bentuk bangunan Candi Ngawen yang meruncing memang mirip dengan candi Hindu. Tapi diamati lebih seksama, stupa dan teras (undakan) pada candi ini menunjukkan simbol dalam candi-candi Budha. Bentuk bangunan Candi Ngawen sedikit banyak juga memiliki kesamaan dengan Candi Mendut.

Photo by SahrudinKompleks Candi Ngawen mencakup 5 bangunan candi dengan letak berderet, terdiri dari 2 candi induk dan 3 candi apit.

“Candi induk adalah candi utama, sedangkan candi apit adalah candi yang letaknya mengapit candi induk,” jelas Sumedi. Candi apit juga diartikan sebagai bangunan pendamping candi induk. Karena candi induk berada diantara candi apit, candi induk didirikan pada bangunan kedua dan keempat.

Candi induk yang pertama merupakan satu-satunya candi yang masih lengkap diantara 4 candi lainnya. Meski paling lengkap, sayangnya, stupa pada candi ini sudah pecah menjadi beberapa bagian sejak awal ditemukan.

Sebab itulah stupa candi tidak dipasang. Sebagai candi yang paling utuh, candi induk pertama memang paling banyak batu penyusunnya. Dengan tujuan pengamanan, sambungan batu diperkuat dengan menambah lapisan semen. Batu asli yang sudah rusak diganti dengan batu polosan.

“Batu polosan yang dimaksud adalah batu yang tidak punya relief seperti aslinya,” ujar Sumedi.

Berbeda dengan candi induk pertama, kondisi candi induk kedua lebih parah. Sebab pada candi induk kedua, begitu banyak batu penyusun yang pecah-pecah dan hilang. Stupanya juga hilang. Hanya sekitar 50 persen batu yang masih layak pada bangunan keempat ini.

“Bangunan keempat pada Candi Ngawen jadi terlihat tidak sempurna. Hanya ada lantai, tapi tidak ada atap dan tidak berdinding,” kata Sumedi.

Sebenarnya, bebatuan di pelataran candi bukan hanya sebatas batu penyusun candi induk dan candi apit. Masih banyak batu lain yang ditemukan, namun tidak termasuk dalam batu penyusun candi induk dan apit.

Photo by SahrudinBelum jelas apa fungsi batu-batu yang ditata rapi di halaman candi tersebut. Pelataran Candi Ngawen makin terlihat asri oleh beragam tanaman bunga, berikut kolam lengkap dengan bunga teratai di tengahnya. Kolam ini dibuat untuk keperluan pengairan tanaman di halaman candi.

Beberapa candi mengalami pemugaran sampai berulang kali. Tapi sejak hampir seabad lalu, Candi Ngawen hanya sekali dipugar. Pemerintah melalui Dinas Purbakala Jawa Tengah menganggap peninggalan sejarah ini belum layak direnovasi, karena bebatuan yang ada tak lengkap.

“Minimal 80 persen batu yang jelas fungsinya terkumpul, baru bisa renovasi. Kalau belum, sampai kapan pun tidak dinilai layak,” tandas Sumedi.*

5 responses to “Candi Ngawen, Sepi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s