Tertimbun

SAHRUDIN, Muntilan

Photo by Sahrudin

Dua rumah di RT 5 RW 15 Dusun Prumpung Sidoharjo, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan tertimbun lahar dingin, Rabu siang (1/12/2010). Kedua rumah yang berjarak sekitar 30 meter dari bibir Sungai Pabelan itu, masing-masing milik pasangan Mujar (45) dan Siti Safangatun (40), serta rumah yang ditinggali Mbah Iman (74).

DUA rumah di RT 5 RW 15 Dusun Prumpung Sidoharjo, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan tertimbun lahar dingin, Rabu siang (1/12). Kedua rumah yang berjarak sekitar 30 meter dari bibir Sungai Pabelan itu, masing-masing milik pasangan Mujar (45) dan Siti Safangatun (40), serta rumah yang ditinggali Mbah Iman (74). Rumah Mbah Iman yang lebih dekat dengan bibir sungai, bahkan nyaris tak tersisa sebab hampir seluruh bangunan terseret dan tertimbun material vulkanik. Separuh lahar dingin juga menimbun rumah milik suami isteri Mujar dan Siti Safangatun, yang berjarak sekitar 7 meter dari rumah Mbah Iman.

Mujar, yang ditemui di rumah tetangganya mengatakan, aliran deras lahar dingin mendadak memenuhi halaman rumahnya sekitar pukul 13.30 WIB. Ketika itu, pria yang bekerja sebagai pemahat batu di Sanggar “Linang Sayang” ini baru saja mengeluarkan sepeda motornya. Belum sempat Mujar menghidupkan mesin, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah hulu Sungai Pabelan. Dalam hitungan detik, ia sudah melihat lahar dingin mengalir bergulung-gulung. Mujar dan isterinya berlari sambil berteriak-teriak minta tolong.

“Tidak sempat bawa apa-apa. Hanya baju di badan saja yang bisa saya selamatkan,” ucap bapak 3 anak ini, terbata-bata. Mujar mengaku tak sempat menyelamatkan harta bendanya. Sebuah sepeda motor Shogun R yang selalu menemaninya mencari nafkah, tertimbun material vulkanik hingga tak tampak dari permukaan. Bukan hanya itu, sebuah pesawat televisi, dua buah sepeda onthel, surat-surat berharga, kompor dan tabung gas, semua pakaiannya termasuk baju-baju anak dan isterinya, ikut terpendam pasir, batu dan kerikil.

“Syukur kambing sudah kami jual. Kerugian tidak tambah banyak,” ujar Siti Safangatun. Akibat musibah itu, Mujar dan isterinya mengalami kerugian hampir Rp 70 juta. Ketika peristiwa itu terjadi, anak-anaknya juga sedang tidak berada di rumah. Anak sulungnya, Muhammad Romlin (22) sedang bekerja di Jakarta. Anak kedua, Pujiyanto (15) sedang bermain di rumah tetangganya. Sedangkan si bungsu Suci Tri Utami (11) masih berada di sekolahnya.

Selain kerugian harta benda, Mujar dan isterinya juga mengkhawatirkan nasib peralatan sekolah kedua anaknya, yaitu Pujiyanto dan Suci Tri Utami. “Mereka sedang bersiap menghadapi ujian. Semua buku pelajaran mereka ikut tertimbun lahar. Saya khawatir pihak sekolah tidak mau mengerti kondisi kami. Kami berharap anak-anak dimaklumi, karena mereka juga rajin belajar,” tutur Siti Safangatun.

Photo by SahrudinMbah Joyo (77), warga Dusun Prumpung Sidoharjo menuturkan, banjir lahar dingin besar hingga menyebabkan rumah warga terbenam, pernah terjadi pada tahun 1960an. “Kalau tidak tahun 1959, ya 1964. Sudah lupa saya. Sudah lama dan sudah tua saya,” kata Mbah Joyo. Ketika itu, belasan penduduk desa bahkan dikabarkan tewas terseret lahar dan tak pernah ketahui lagi nasibnya.

Titik Sumarni, Kepala Dusun Prumpung Sidoharjo mengatakan, pihaknya masih mengupayakan bantuan bagi Mujar dan isterinya, serta Mbah Iman. “Saya sudah melaporkan hal ini kepada Kepala Desa. Sudah dilaporkan juga kepada Camat dan Pemerintah Kabupaten Magelang,” ucap Titik, yang terlihat masih sibuk berkirim pesan pendek dan menerima telepon.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s