Lahar Dingin Makin Sadis

Oleh: Sahrudin

Photo by Sahrudin

Kondisi Jembatan Sungai Putih di Jalan Raya Magelang - Jogjakarta Km 23 - 24, di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Minggu malam (9/1/11).

AMUKAN lahar dingin Sungai Putih semakin menjadi. Sejak Minggu sore (9/1/11) ratusan meter di Jalan Raya Magelang – Jogjakarta Kilometer 23 – 24 terbenam material vulkanik. Ketinggian pasir dan lumpur berkisar antara satu meter di pinggir jalan, dan tiga meter di bagian tengah jalan. Bebatuan besar dan batang-batang pohon bergelimpangan di jalan raya itu.

Di ruas jalan tersebut, tak ada badan jalan yang tersisa. Timbunan material vulkanik membentang sejak SPBU Mancasan, Desa Gulon, Kecamatan Salam sampai Pasar Desa Jumoyo, Kecamatan Salam. Di SPBU Mancasan, timbunan pasir dan lumpur yang mencapai ketinggian dua meteran, memaksa pengelola menutup tempat usaha itu.

Sedikitnya tiga unit travo listrik milik PT PLN (Persero) UPJ Borobudur dan APJ Magelang meledak. Jaringan listrik sudah mati sekitar 20 menit usai luapan lahar dingin Sungai Putih. Suasana gelap gulita. Hanya lampu senter warga dan relawan yang bisa jadi sumber cahaya. Tak tampak bintang dan rembulan. Begitu susah kamera ini menjepret, sebab ia sulit menemukan autofocus-nya.

Di depan Pasar Desa Jumoyo, separuh bagian sebuah bus wisata terjebak pasir dan lumpur. Tali kipas pada mesinnya rusak. Beruntung, sebanyak 13 penumpang bisa diselamatkan.

Photo by SahrudinDi Dusun Ngasem, Desa Gulon, sebanyak empat orang terjebak di sebuah rumah susun di belakang sebuah industri pengemasan garam. Relawan terus mengupayakan perahu karet untuk melakukan evakuasi terhadap warga yang belum diketahui namanya itu.

Sementara itu, pengamanan di sekitar lokasi banjir lahar dingin Sungai Putih pun diberlakukan sampai beberapa lapis. Lapisan pertama, dipasang tali membatas pada jarak antara 300 sampai 400 meter dari Sungai Putih. Titik penutupan pertama ini dilakukan di pintu masuk Muntilan dari arah Magelang. Ini dilakukan setelah terjadi peningkatan volume dan arus lahar dingin di Sungai Pabelan, di dekat Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

Pengamanan lapisan berikutnya, warga dan anggota Tim SAR (Search And Rescue) Kabupaten Magelang mengamankan jarak sekitar 500 meter dari sungai itu. Titik penutupan ini dilakukan di pintu masuk Muntilan dari arah Jogjakarta. Ini dilakukan akibat peningkatan volume lahar dingin yang mengalir ke Sungai Putih. Dan lapisan pengamanan terakhir, petugas kepolisian menghalau kendaraan agar berbalik arah pada jarak 800 meteran dari Sungai Putih.

Di Masjid Al-Falah, Desa Jumoyo, jumlah warga yang mengungsi diperkirakan bertambah sekitar 150 orang lagi. Di masjid tersebut, warga yang mengungsi tidak kurang dari 500an orang malam itu. Para pengungsi terlihat berdesakan di kompleks masjid seluas hampir 250 meter persegi itu. Jumlah pengungsi di SD Negeri 2 Jumoyo juga terus bertambah. Namun, belum ada tambahan suplai bantuan logistik.

Photo by Sahrudin

Sebuah gapura salah satu dusun di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam yang terkubur material vulkanik Sungai Putih yang berhulu di lereng Merapi, Minggu malam (9/1/11).

Seorang perempuan berumur 65 tahun bernama Sumiyati dikabarkan meninggal terkubur pasir dan lumpur.

Banjir lahar dingin juga mengakibatkan kerja bakti yang dilakukan ratusan warga Desa Sirahan dibantu puluhan relawan JME Rescue Peduli Merapi menjadi sia-sia.

Sejak Minggu siang sampai sore, mereka bekerja bakti mengeruk pasir dan membersihkan sisa-sisa banjir lahar dingin di beberapa dusun di Desa Sirahan. Akan tetapi, belum selesai kerja bakti itu dilakukan, sore harinya lahar dingin kembali meluap dari Sungai Putih yang melalui desa itu.

Sementara itu, Sedikitnya 15 rumah di dua desa di Kecamatan Muntilan, kembali menjadi korban luapan lahar dingin Sungai Pabelan, Minggu sore (9/1). Tempat tinggal warga tersebut, masing-masing berada di Dusun Prumpung Sidoarjo, Desa Tamanagung dan Desa Adikarto.

Delapan rumah di Dusun Prumpung Sidoarjo terpendam pasir dan lumpur hingga ketinggian 2 meter lebih. Sedangkan di Desa Adikarto, tiga rumah dinyatakan hanyut dan empat rumah lainnya terpendam hingga terlihat bagian atapnya saja. Hingga tadi malam, belum diperoleh keterangan lebih lanjut mengenai nasib penghuni masing-masing rumah yang terkena musibah itu.

Photo by Sahrudin

Rumah Sudiyanto, Kepala Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam yang ikut terpendam material vulkanik Sungai Putih, Minggu malam (9/1).

Sementara jembatan darurat atau bailey Sungai Pabelan yang menghubungkan Desa Progowati, Kecamatan Mungkid dan Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan juga telah ditutup untuk umum sejak Minggu siang. Petugas dan warga sekitar menutup jembatan yang juga penghubung Kabupaten Magelang dengan Kabupaten Kulonprogo (DIJ) itu, karena bailey atau jembatan darurat bergetar-getar hebat akibat batu-batu berukuran besar yang terbawa arus lahar dingin membentur-bentur dinding Sungai Pabelan.

“Getarannya kuat sekali. Dari jarak seratus meter dari sungai, getarannya terasa. Bunyi gemuruhnya juga keras,” kata Opik (35) warga Dusun Srowol, Desa Progowati, Kecamatan Mungkid. Petugas dan warga sekitar melarang siapapun mendekat ke jembatan bailey maupun bibir Sungai Pabelan.

Banjir lahar dingin berskala besar di Sungai Pabelan, terakhir kali terjadi pada Rabu siang (1/12/10). Saat itu, warga bahkan sempat menyaksikan detik-detik robohnya Jembatan Sungai Pabelan yang kini sudah diganti bailey pinjaman dari Yon Zipur 4/Tanpa Kawandya Ambarawa itu.

Pada kejadian itu, sedikitnya dua rumah di Dusun Prumpung Sidoarjo, Desa Tamanagung terkubur material vulkanik hingga ketinggian dua meter lebih. Itulah dua rumah pertama yang menjadi korban luapan lahar dingin pascaletusan Gunung Merapi.

Photo by Sahrudin

Pekerja menggunakan alat berat mengeruk bebatuan dan pasir yang menimbun Jalan Raya Magelang - Jogjakarta Km 23 - 24 Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Minggu malam (9/1/11).

Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, juga tak luput dari amukan lahar dingin Sungai Pabelan. Tadi malam, sedikitnya 500 warga mengungsi ke Balai Dusun Ngemplak, Desa Ngrajek. Kawasan tersebut tergenang material vulkanik hingga hampir setengah meter.

Di Kecamatan Dukun, ratusan penduduk Dusun Talun Lor, Dusun Sorobandan dan Dusun Karang di Desa Banyudono, terpaksa mengungsi ke balai desa setempat, Minggu sore (9/1). Penyebabnya, luapan lahar dingin Sungai Pabelan yang melewati desa tersebut sudah menimbun puluhan hektare areal persawahan di kawasan itu. Namun, mereka justru semakin khawatir karena aliran lahar dingin Sungai Pabelan tiba-tiba berubah arah, dan mengancam keberadaan tiga dusun tersebut.

Arah aliran lurus, bisa menuju Dusun Talun Lor, Dusun Sorobandan dan Dusun Karang.

Kondisi yang sama juga menimpa ratusan warga Dusun Ngentak dan Dusun Tegalsari, Desa Sawangan, Kecamatan Sawangan. “Kami mengungsi ke rumah warga di sebelah barat Jalan Blabak – Sawangan yang lebih jauh dari Sungai Pabelan,” kata Iskak, warga Dusun Ngentak, Desa Sawangan, melalui telepon seluler.***

2 responses to “Lahar Dingin Makin Sadis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s