567 Pengungsi Dipindahkan

Oleh: Sahrudin

SEDIKITNYA 157 KK (kepala keluarga) atau sekitar 567 pengungsi direlokasi dari SD Negeri I Ngrajek ke tenda-tenda keluarga (shelter box) di lapangan bola voli Dusun Nglaseman, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Rabu (19/1).

Photo by Sahrudin

69 of 567 refugees who relocated to shelter boxes in in Nglaseman of Ngrajek Village, Mungkid Subdistrict of Magelang Regency on Wednesday (January 19th 2011) are elderly aged 65 years or over.

Salah satu alasan pemindahan ini, karena aktivitas belajar-mengajar di SD Negeri I Ngrajek cukup terganggu dengan kehadiran ratusan warga Dusun Ngemplak, yang mengungsi akibat banjir lahar dingin Sungai Pabelan, pekan lalu.

Para pengungsi tersebut sudah sembilan hari berada di SD Negeri I Ngrajek. Jumlah tenda keluarga yang sudah disiapkan di lapangan bola voli Dusun Ngemplak kemarin, tercatat sebanyak 36 unit.

Dalam waktu dekat, Posko Bersama Gerakan Pemuda Ansor sebagai pengelola lokasi pengungsian ini, akan melakukan penambahan minimal sepuluh unit tenda keluarga.

Photo by Sahrudin

At least 157 households or about 567 refugees were relocated from Sekolah Dasar (elementary school) Ngrajek I into shelter boxes set up on the volleyball field in Nglaseman of Ngrajek Village, Mungkid Subdistrict of Magelang Regency on Wednesday (January 19th 2011).

Chabibullah, Ketua GP Ansor Kabupaten Magelang mengatakan, jumlah tenda keluarga sudah dipastikan mampu untuk menampung seluruh pengungsi yang dipindahkan dari SD Negeri I Ngrajek.

Sebab, tenda-tenda keluarga hanya diperuntukkan bagi keluarga yang tempat tinggalnya rusak parah akibat terjangan lahar dingin Sungai Pabelan.

“Yang rumahnya tidak terlalu parah rusaknya, tinggal di rumah warga di Dusun Nglaseman ini,” kata Chabibullah.

Ia menyebutkan, warga Dusun Nglaseman yang bernama Bowo, mengikhlaskan rumahnya dijadikan tempat tinggal sementara bagi warga yang mengungsi.

Photo by Sahrudin

Komariyah and her kids stand beside their ex-house in Ngemplak of Ngrajek Village, Mungkid Subdistrict on Wednesday (January 19th 2011). Cold lava flood from Pabelan River caused their house collapsed, all properties were dragged and damaged and left only door and a bicycle.

Selain relokasi pengungsi, kegiatan kemarin juga diwarnai dengan penyerahan paket-paket bantuan dari organisasi kemanusiaan Rotary Club dan Posko Bersama GP Ansor. Paket-paket bantuan itu, antara lain berisi hygiene kit, karpet dan plastik, kasur lipat, serta bahan makanan yang keseluruhan mencapai seratus paket.

Untuk menghindari kecemburuan atau rasa iri diantara para pengungsi, pemilihan tenda keluarga untuk masing-masing KK dilakukan dengan sistem undian.

Kompleks tenda-tenda keluarga yang sebagian didirikan di halaman rumah-rumah warga Dusun Nglaseman, juga dilengkapi dengan 12 unit kotak sampah, fasilitas penerangan, serta empat unit bak air yang masing-masing berkapasitas 500 liter.

Pelayanan oleh Posko Bersama GP Ansor ini diharapkan berlangsung lancar hingga Bulan April mendatang.

Komariyah, salah satu pengungsi mengatakan, bantuan yang ia terima sangat berarti bagi dia dan kedua anaknya, Dika (8) dan Dendi (3). Sebab, bangunan rumahnya di Dusun Ngemplak hanya tersisa pintu, potongan dinding depan dan sebuah sepeda yang kerap dipakai anaknya sekolah.

“Semua yang saya miliki hilang, ada yang ketemu tapi rusak. Uang, surat-surat rumah, kartu-kartu penting, perhiasan, pakaian, seragam anak-anak, tidak ada yang ketemu,” jelas Komariyah.

Photo by SahrudinSelama mengungsi di SD Negeri I Ngrajek, Dika juga terus-terus menangis dan merengek minta pulang. Dia tidak betah.

Padahal, Komariyah kini tak punya tempat tinggal lagi. Dika yang masih duduk di kelas dua SD Negeri I Ngrajek, setelah banjir lahar dingin Sungai Pabelan pekan lalu, tak pernah lagi sekolah dengan seragam dan sepatu.

“Tapi kemarin dia diberi gurunya seragam dan sepatu,” lanjut Komariyah. Sebelum tenda-tenda keluarga di Dusun Nglaseman dibangun, Komariyah dan kedua anaknya selalu bermalam di teras rumah warga, karena Dika tak mau tidur di sekolahnya.

Photo by Sahrudin

Four units of water tanks each with a capacity of 500 liters, placed among shelter boxes on the volleyball court in Nglaseman of Ngrajek Village, Mungkid Subdistrict of Magelang Regency on Wednesday (January 19th 2011). Needs of water in the refugees camp are channeled from "Tuk Udal", a small spring in the village area.

Abdul Basit, Kepala Desa Ngrajek mengatakan, meski ada yang tidak rusak parah, warga Dusun Ngemplak masih trauma kembali ke rumah masing-masing. Mereka juga takut terjadi banjir susulan.

Akan tetapi, lebih banyak warga Dusun Ngemplak yang tidak lagi memiliki tempat tinggal, karena sudah hancur diterjang material vulkanik Merapi dari Sungai Pabelan.

Ratusan peternak ikan rugi besar, karena kolam-kolam mereka tertimbun pasir dan batu. Saluran irigasi dan persawahan mendadak jadi hamparan material vulkanik.

“Beberapa staf saya di kantor desa, juga sampai sekarang bekerja tidak pakai seragam. Karena seragam mereka hilang waktu banjir lahar dingin,” ungkap Abdul Basit.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s