Mbah Grebeg…

Tak ada yang tahu darimana sesungguhnya Mbah Grebeg berasal. Sebagian orang menyebutnya datang dari daerah Cirebon, Jawa Barat, yang kemudian menetap di lereng Gunung Merapi. Mbah Grebeg dikisahkan pula pernah tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur. Hingga kini, cerita tentang Mbah Grebeg tetap menjadi misteri.

SAHRUDIN, Srumbung

Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, berjarak sekitar tujuh kilometer dari puncak Gunung Merapi. Beberapa bagian desa ini telah musnah akibat berkali-kali diterjang letusan gunung setinggi hampir tiga ribu meter itu. Kebanyakan penduduk desa, kini hidup dengan bertanam salak.

Mbah Grebeg Kemiren Srumbung Merapi

Pusara yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Mbah Grebeg, di pekuburan Dusun Bakalan, Desa Kemiren.

Sesepuh desa mengatakan, sejarah orang-orang Kemiren dan sekitarnya, tak bisa lepas dari sosok bernama Mbah Grebeg. Ia diperkirakan hidup sekitar tahun 1600-an. “Mbah Grebeg dipercaya sebagai tokoh pembaharu dalam hal keterampilan bercocok tanam nenek moyang kami,” kata Yusuf Herlambang, Kepala Desa Kemiren, Selasa (22/2).

Jejak kehidupan Mbah Grebeg, menurut penduduk Desa Kemiren, masih bisa dilihat sampai sekarang. Beberapa peninggalannya, antara lain, beberapa umpak atau dasar tiang rumah yang terbuat dari batu. Umpak-umpak ini tertata rapi di pinggir sebuah kebun salak di Dusun Jamburejo, Desa Kemiren.

“Rumah Mbah Grebeg dulu, yang sekarang sudah jadi kebun salak itu,” kata seorang warga. Dusun Jamburejo merupakan salah satu kawasan permukiman yang paling dekat dengan puncak Merapi.

Peninggalan lain yang diyakini diwariskan Mbah Grebeg, adalah petilasan berupa mata air, juga di Dusun Jamburejo. Sesepuh desa menuturkan, Mbah Grebeg-lah yang telah merintis keberadaan mata air di tengah kebun salak itu.

Mata Air Salak Jamburejo Kemiren Srumbung

Mata air di Dusun Jamburejo, Desa Kemiren, yang dipercaya ditemukan oleh Mbah Grebeg. Penduduk belum pernah melihat mata air itu kering.

“Selama saya hidup di sini, belum pernah mata air itu mati atau kering,” ujar warga lainnya. Penduduk setempat kemudian membuatkan pancuran dari batang bambu, agar mereka mudah mengambil air yang bening dan sejuk itu.

Pusara Mbah Grebeg berada di pekuburan Dusun Bakalan, Desa Kemiren, berdampingan dengan puluhan pusara lainnya. Tak ada nisan atau bangunan apapun di atas pusara itu.

“Sebelum meninggal, Mbah Grebeg memang sudah berwasiat agar makamnya tidak ditambahi apa-apa,” ungkap Prapto Wiyono (55), warga Dusun Jamburejo. Prapto adalah keturunan Mbah Grebeg, entah generasi yang ke berapa.

“Saya mendapat semua cerita tentang Mbah Grebeg dari ayah saya, Kromorejo,” ucapnya. Namun sayang, Kromorejo juga tidak pernah bercerita tentang asal muasal Mbah Grebeg, nenek moyangnya itu. “Ada yang bilang, Mbah Grebeg dari Cirebon. Tapi saya sendiri juga tidak tahu sebenarnya,” imbuh Prapto.

Namun, ada kisah yang menurut Prapto sangat misterius dan menarik. Tatkala Mbah Grebeg meninggal, orang-orang dari Cirebon maupun Banyuwangi tiba-tiba berdatangan ke Desa Kemiren, untuk mengabarkan bahwa Mbah Grebeg telah tiada.

“Begitu juga sebaliknya, yang dari sini pergi ke Cirebon dan Banyuwangi, memberitahukan berita duka itu,” tutur Prapto. Saat itulah muncul dugaan, bahwa Mbah Grebeg adalah sosok spiritualis, yang mampu “moksa” alias menempatkan diri di beberapa tempat sekaligus, pada saat yang bersamaan.

Umpak Batu Mbah Grebeg Kemiren Srumbung

Umpak atau batu ganjal tiang rumah, yang diyakini bekas umpak di rumah Mbah Grebeg. Mengherankan, sebab Mbah Grebeg diperkirakan hidup di tahun 1600-an. Umpak itu dijejer rapi di dekat rumah keturunan Mbah Grebeg di Dusun Jamburejo, Desa Kemiren.

“Yang di sini memang makam beliau. Tapi saya juga dengar, di Cirebon katanya juga ada makamnya. Di Banyuwangi katanya juga ada kuburannya,” kata Prapto, terheran-heran.

Apapun cerita mengenai Mbah Grebeg, yang jelas, penduduk Desa Kemiren tetap menghormati sosok yang melegenda itu. “Sebelum Merapi meletus tahun lalu, setiap Bulan Sapar (penanggalan Jawa) di sini masih ada ritual pengambilan air dari petilasan Mbah Grebeg. Kami melakukan prosesi itu dibarengi acara-acara kesenian tradisi,” terang Yusuf Herlambang.(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s