Ung: Tenggarong – Yogya – Magelang

Pesawat kuu tiba dii jogja 14 juni jam 08.45….plg 20 juni jam 09.45…..lamaa Juga dii sana…kloo memungkinkan nanti Ke solo“. Pesan singkat itulah yang menjadi pembuka pertemuanku dengan Sulung Raviani, setelah sekitar 9 tahun kami tak pernah bertatap muka.

—————————————-

PERTENGAHAN Mei 2012, Ung – sapaan yang paling disukai Sulung – mengutarakan niatnya untuk berlibur ke Yogyakarta. Kali ini, ia menyetting perjalanannya “hanya” untuk menyenangkan Queen, puteri semata wayangnya. “Liburan ini buat Queen,” kata dia, lewat SMS.

ImageDi Yogya, sebenarnya Ung punya banyak kawan. Tapi, karena kawan-kawannya lebih banyak yang jadi “orang sibuk”, ia pun meminta aku yang rada-rada pengangguran ini, untuk mengatur perjalanannya. “Aku belum pernah ke Jogja,” kata Ung.

Sejak awal, sudah kukatakan pada wanita asal Tenggarong, Kalimantan Timur itu, aku tidak mungkin mendampinginya sepanjang hari, jika ia memilih full tinggal di Yogya. Sebab, aku dan keluarga berdomisili di Magelang, sekitar 40 kilometer di sebelah utara Kota Gudeg. “Paling tidak, kamu separuh liburan di Yogya, sisanya menginap di hotel di Magelang,” pintaku. Dan, Ung menyanggupi.

Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Kamis, 14 Juni 2012. Pukul 09.43 WIB.

“Maaf terlambat. Tadi pesawat putar-putar dulu baru turun. Itu, sih, ada pesawat latihan, jadi kami harus putar-putar dulu sebelum turun,” kata Ung di pintu kedatangan, menyapa aku dan Pak Budi, tetangga yang kuminta untuk menjadi sopir selama liburan Ung dan Queen. Kami pakai kendaraan rental, sebab aku hanya punya mobil tua warisan almarhum bapak. Aku tak bisa menyetir pula.

Image“Yayang kan sudah bilang ke Mama, kita jangan naik pesawat yang itu. Jadinya lama kan…,” sela Queen, sambil duduk di atas koper di airport trolley. Gadis 5 tahun itu kadang menyebut dirinya “Yayang”, kadang “Pitty” ketika berbincang dengan Ung. “Kamu juga, kenapa tidak berani bilang ke pilotnya. Suruh supaya pesawat cepat turun, jangan putar-putar terus,” sergah Ung, berargumen dengan puterinya.

Sesuai rencana di hari pertama, setelah meninggalkan bandara, kami akan menuju Candi Prambanan. Sesudah itu, Ung dan Queen bakal kami bawa ke Keraton Yogyakarta dan Tamansari, lalu ke Pantai Parangtritis.

Kenyataannya, hanya Candi Prambananlah yang bisa kami kunjungi siang itu. Hampir 3 jam waktu habis di kompleks candi Hindu yang dibangun pada abad 9 Masehi itu. “Kalian istirahat dulu di hotel. Kalau capek sudah hilang, baru lanjut ke tempat lain,” kataku.

ImageSinar matahari telah menguning ketika Ung dan Queen menyatakan siap meneruskan jalan-jalannya. Artinya, sudah terlalu sore untuk mengunjungi Keraton dan Tamansari, apalagi kalau harus lanjut ke Parangtritis. Setelah putar-putar cari gudeng lesehan dan tak kunjung ketemu (di dekat Tugu baru buka senja hari), kami sepakat untuk lebih dulu ke Taman Pelangi di Monumen Jogja Kembali alias Monjali.

Aku dan Pak Budi kembali menata jadwal perjalanan.
Parangtritis yang semula berada di hari pertama, kami undur ke hari kedua. Keraton dan Tamansari kami geser ke hari ketiga. Ung pun memutuskan hanya semalam menginap di Yogya. Seterusnya, aku pindahkan ia ke Hotel Wisata di jantung Kota Magelang.

Hari kedua, lagi-lagi Ung dan Queen batal ke Parangtritis. Energi kami sudah terkuras selama perjalanan pergi-pulang ke Pandawa Waterpark di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo. Queen dan Ihsan, anak saya, tak mau segera mentas dari kolam ember tumpah di Pandawa, kendati mereka telah berendam lebih dari 3 jam.

Setiba di Magelang, Ung minta dicarikan tukang urut. “Badanku rasanya seperti dipukuli,” keluh perempuan 28 tahun itu. Sebelumnya, tatkala kami singgah di sebuah warung makan di kawasan Turi, Sleman, Ung dan Queen sempat tergelepar di atas dipan di warung itu.

ImageDi hari ketiga, niat merasakan debur ombak Parangtritis barulah kesampaian. Lebih dulu, kami berkunjung ke Taman Pintar, Keraton dan Tamansari. Selepas maghrib, kami meninggalkan Parangtritis menuju Magelang.

MENJADI pengatur perjalanan, kenyataannya, tak semudah yang dibayangkan. Persoalannya, aku rasa, lebih ke masalah waktu. Perkara bahwa si turis sudah capek, itu masalah dia sendiri, bukan urusan pengatur perjalanan. “Tapi karena yang aku bawa adalah seorang ibu cantik dan puterinya yang manis, semuanya jadi fleksibel dan gampang diatur,” pikirku.

Candi Borobudur dan Taman Kyai Langgeng di Magelang, sebenarnya masuk di hari keempat. Seperti biasa, tempat tujuan kedua senantiasa dikorbankan sebab molornya waktu berkunjung di tempat pertama.

ImageDi Borobudur, selain istirahat di pendopo makan waktu cukup lama setelah berpanas-panas di atas candi, Ung juga butuh berjam-jam berbelanja di pasar seni di kawasan wisata itu. Ia memborong tas, pakaian serta aksesoris untuk oleh-oleh kerabatnya di Tenggarong. Aku dan Queen membunuh waktu dengan saling bergantian memotret di dalam pasar.

“Waduh, banyak sekali yang diborong,” kata beberapa pedagang di depan kiosnya, melihat kami menenteng beberapa kantong plastik besar berisi belanjaan. Motor bebek TVS saya pun penuh beban: dua kantong plastik besar di cantelan depan, Queen yang duduk di muka, dan Ung membonceng di belakang sembari membawa dua tas kresek yang juga sarat muatan. Kami bertiga bagaikan keluarga bahagia yang baru saja kulakan di pasar…

UNG suka fotografi. Ia senang memotret, juga kerap jadi modelnya. Ia luwes dan ekspresif kalau disuruh berpose. Ia tak malu-malu berpakaian agak terbuka. Ia tidak jaim. Queen pun beberapa kali jadi juara pertama lomba fashion tingkat provinsi Kalimantan Timur.

ImageKarena itulah, pada hari kelima liburannya, acara jalan-jalan sepenuhnya dipakai untuk pemotretan. Di Candi Ngawen, Muntilan, Ung memakai kemben hitam berhiaskan mawar merah di dada kirinya. Untuk bawahan, ia pakai rok panjang merah menyala, dengan belahan sampai ke paha. Seksi sekali pokoknya, Saudara-saudara…

Di sini, Ung agak snewen. Mungkin karena waktu itu bersamaan dengan “periodenya”, ia juga sedang flu. Ia mengeluh ketika harus berpose di bawah terik keras matahari. Lalu, aku potret dia di ruangan dalam candi. Alhasil, foto banyak yang missfocus dengan komposisi yang tak sedap…

Pemotretan berlanjut dengan meminjam dua rumah penduduk di Desa Tuksongo, Borobudur dan Desa Bumiharjo, juga di Kecamatan Borobudur. Ung sepertinya lumayan terhibur dengan suasana kedua rumah yang Jawa banget itu.

Sisa satu hari sebelum kepulangan mereka ke Kalimantan Timur, kami pakai untuk jalan-jalan ke Taman Kyai Langgeng. Di objek wisata milik Pemerintah Kota Magelang ini, Queen naik kuda sampai empat kali putaran. Puas dari Kyai Langgeng, Ung mengajak balik lagi ke pasar cinderamata di Borobudur.

“Aku hitung, oleh-oleh masih kurang banyak,” katanya.

Keesokan hari, Rabu, 20 Juni 2012, waktunya Ung dan Queen balik ke Tenggarong. Dari Hotel Wisata Magelang, kami menuju Bandara Adisucipto Yogya dengan shuttle bus Damri. Sama seperti saat mereka datang, ibu dan anak itu menumpang Garuda jurusan Jogja-Balikpapan, dengan oleh-oleh dua kardus besar berisi pakaian, tas dan cinderamata khas Jogja dan Magelang.

“Aku kangen Magelang,” kata Ung, selang sehari kemudian, lewat SMS… [Potret dan teks: Sahrudin/MagelangImages]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s