Magelang – Borneo – Magelang

Menyadap getah karet, bekerja di studio foto, menjadi jurnalis lepas. Aktivitas yang serba tidak nyambung itu saya lakoni, dalam kurun waktu sepuluh bulan berada di Kalimantan Selatan. Meninggalkan Magelang, membuat blog ini jadi tak terurus…
—————————-

Sabtu, 14 Juli 2012. Setahun yang lalu.

IMG_2019

Laut Jawa. [Image by Sahrudin]

SEMARANG KOTA PANAS. Tubuh sudah mulai basah oleh keringat, sejak mobil baru sampai di Ambarawa. Kendaraan tak ber-AC. Tujuan saya, Pelabuhan Tanjung Emas.

Kapal Egon Semarang-Banjarmasin seharusnya sudah berangkat pukul 11.00 WIB. Mungkin sudah biasa: jadwal molor. Menjelang jam 5 sore kapal baru berangkat.

Sebenarnya, sudah 5 kali saya menyeberang ke Kalimantan lewat laut. Namun baru kali inilah, lebih dari separuh waktu perjalanan disambut gelombang besar. Kapal raksasa milik Pelni itu semalaman terombang-ambing.

Beberapa puluh penumpang mabok, berulang-ulang. Bagaikan koor atau paduan suara, di sini selesai muntah, lalu gantian di sebelah sana, lalu di sebelah sananya lagi. Hoek, hoek, dan hoek…

Memasuki perairan Banjarmasin, pagi hari, air laut berangsur tenang. Pelabuhan Trisakti/Bandarmasih berada di alur Sungai Barito, bukan di laut sebagaimana kebanyakan pelabuhan besar.

Perjalanan dari Magelang ke Banjarmasin melalui jalur darat dan laut dicapai dalam waktu sekitar 30 jam. Padahal kalau mau naik pesawat dari Yogyakarta, cukup sejam paling lama.

Tugu Ketupat, Kandangan, Hulu Sungai Selatan. [Image by Sahrudin]

Tugu Ketupat, Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Kandangan memang lebih dikenal dengan makanan ketupat santannya. [Image by Sahrudin]

Kabupaten Balangan dan Tabalong berjarak 200 kilometer lebih dari Banjarmasin, Ibukota Kalimantan Selatan. Di dua tempat inilah saya akan tinggal selama berada di tanah Borneo.

Perjalanan darat dari Banjarmasin memang harus dinikmati. Angkutan antarkota tak ada yang ber-AC. Kami mampir di sebuah warung makan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Ketupat santan dan sate, cukup untuk mengobati kerinduan pada daerah ini.

Dua minggu pertama, menyadap getah karet menjadi rutinitas setiap usai subuh hingga menjelang tengah hari. Pekerjaan ini tidak asing lagi, sebab beberapa tahun silam, saya juga pernah melakoninya.

Di Kalimantan Selatan, produksi getah karet terbanyak berasal Kabupaten Tabalong. Menyusul, Balangan, Tapin, Hulu Sungai Tengah dan lainnya.

Banyak orang di daerah sini kaya-raya karena getah karet. Di saat harga bagus, pemilik kebun karet bisa memperoleh minimal Rp 7 ribu perkilogram getah karet. Pernah juga harga menjulang hingga Rp 14 ribu. Tapi tak jarang, komoditi ini cuma diharga Rp 4.500 tiap kilonya.

Setiap kali bekerja sejak pagi buta hingga menjelang tengah hari, seorang penyadap bisa mengumpulkan belasan hingga beberapa puluh kilogram getah karet. Tergantung banyaknya pohon yang disadap, tergantung luas kebun yang dimiliki, tergantung produktivitas masing-masing tanaman karet.

Penyadap getah karet, Balangan, Kalimantan Selatan. [Image by Sahrudin]

Penyadap getah karet, Balangan, Kalimantan Selatan. [Image by Sahrudin]

Hujan bisa jadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan uang. Sampai saat ini, belum ada cara, belum ada teknologi tepat guna, agar mereka tetap bisa menyadap getah karet di saat hari hujan.

SEBUAH STUDIO FOTO di Kabupaten Tabalong, menerima saya bekerja. Otomatis, rutinitas menyadap karet jadi terhenti.

Studio tersebut, mungkin, yang terbesar di daerah ini. Selain fotografi, bidang usahanya juga mencakup layanan digital printing. Bisa cetak baliho yang gede-gede itu, kalender, hingga kartu nama yang ukurannya cuma seuprit.

Saya kebagian tugas memotret, sedikit mengedit, dan mencetak foto.

Saya mulai dari nol sebenarnya. Saya banyak belajar dari teman-teman (lebih tepatnya, adik-adik) yang lebih dulu bekerja di sini. Mereka pada jago soal memotret, mengedit foto dengan Photoshop, mengoperasikan macam-macam mesin cetak, atau mendesain semua pekerjaan dengan CorelDraw.

Di studio, saya memotret orang untuk pasfoto, foto keluarga, foto grup, memotret gadis-gadis dan tante-tante. I like it…

Sebagian Kota Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. [Image by Sahrudin]

Sebagian Kota Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. [Image by Sahrudin]

Tak hanya bekerja di studio, saya pun kudu bekerja di luar tiap kali ada foto panggilan. Mulai prewedding, akad nikah dan resepsi. Ada pula order memotret acara ulang tahun, pembukaan pengembang perumahan, acara sebuah organisasi, hingga foto bersama perusahaan atau instansi pemerintahan.

Pada saat memotret keluar itulah, kadang saya mendapatkan momen yang, menurut saya, punya nilai jurnalistik. Sebuah portal berita kerap menerima foto-foto dari saya. Sebuah inflight magazine, pernah menerima tulisan panjang berikut foto-foto saya.

Saya menikmati pekerjaan ini. Tidak membosankan. Keluhan-keluhan kecil, adalah bumbu ketika bekerja di manapun. Wajar.

Awal Mei, 2013. Saya kembali ke Magelang, kampung kelahiran, kampung asal orang tua dan leluhur.

Berharap, blog ini akan terawat lagi dengan kepulangan saya. Entah berguna entah tidak bagi orang lain, yang penting saya akan kembali menulis, dan, memotret tentunya…

[Sahrudin/MagelangImages]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s