Budi, Kulit Ketupat dan Onthel Tua

Image

Budi peddled “kulit ketupat” around Seneng Banyurojo Village in Magelang, Central Java on Tuesday (August 7, 2013) morning. Kulit ketupat is coconut leaves weaved into square/diamond pouches. It is made to cover rice cakes boiled in plaited coconut leaves to be served during the Eid al Fitr (Idul Fitri) holiday. The pouches sell at IDR 300.

Image

 

Budi, penjual kulit ketupat dari Candimulyo, Kabupaten Magelang. Selasa (7/8/2013) pagi ia menjajakan dagangannya ke Dusun Seneng Banyurojo, Mertoyudan, Magelang.

Dusun Seneng berjarak sekitar 8 kilometer dari Candimulyo, tempat tinggal Budi. Jalan di antara kedua tempat itu tak selalu lurus.

ImageAda jalan menurun, membelok dan menanjak di sekitar jembatan Sungai Elo. Curam dan tajam.

Budi, yang kumis dan rambutnya sudah memutih, naik sepeda onthel tua.

ImageKepada calon pembeli, Budi menawarkan harga Rp 5 ribu untuk tiap sepuluh kelontong ketupat. Tentu saja, tak ada yang  langsung sepakat dengan harga segitu.

“Penjual yang tadi saja cuma Rp 2 ribu 500,” kata salah seorang penawar.

“Dari tadi di kampung lain, saya juga selalu jual Rp 5 ribu,” kilah Budi. Ia mencoba meyakinkan calon pembeli, bahwa kulit ketupat yang ia jual lebih baik dan lebih rapi.

Para penawar tak bergeming. Kalau harga tidak diturunkan, mereka tidak akan beli.

Daripada pulang ke Candimulyo tanpa rupiah, Budi pilih menyerah. Tiap 10 kelontong ketupat ia lepas seharga Rp 3 ribu.***

Teks dan potret oleh Sahrudin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s