MT, Tidar, Bayeman

Image

Magelang Theater and Tidar Theater in Magelang Municipality. Both were built in 1980s and were closed in November 11, 2011, became the last theaters in the town.

NONTON ki yo neng MT. Nek neng Tidar sok ono corone. Bayeman rodo kere, sok ono tikuse.

Kalimat-kalimat berbahasa Jawa itu, dalam bahasa Indonesia, berarti: “Kalau menonton (film) itu ya di MT (Magelang Theater). Kalau di Tidar (Tidar Theater) kadang ada kecoanya. Bayeman (Bayeman Theater) agak miskin, suka ada tikusnya.”

Itu adalah kata-kata candaan saja. Karena beberapa teman yang kerap mengucapkan itu, nyatanya juga sering menonton film di Tidar dan Bayeman.

Ini tahun 1990an. Tepatnya, tahun 1991, 1992, 1993. Aku masih sekolah di SMP Negeri 7 Magelang. Sejak kelas 1 sampai kelas 3, hampir tiap Sabtu, usai sekolah, aku selalu mampir ke salah satu bioskop di kota ini.

Jarang sendiri. Lebih sering dengan kawan, entah satu, dua, atau beberapa sekaligus. Rame-rame, beli rokok Gudang Garam eceran, masuk bioskop.

Kami, paling sering ke Bayeman Theater, karena terletak paling dekat dengan sekolahku. Harga karcis Bayeman paling murah. Seingatku, waktu itu tak sampai Rp 500.

Lain waktu, kami ke Tidar, atau, kalau sedang punya sisa uang jajan cukup banyak, menonton film yang lebih baru di MT. Ruangan di bioskop ini lebih segar dan nyaman.  Di Bayeman dan Tidar tak ada pendingin udara (air conditioner), dan penonton boleh merokok.

Kalau film yang diputar di MT atau Tidar sedang jelek, aku kadang pilih tidak nonton. Datang ke dua bioskop itu, lihat-lihat poster yang dipasang pada dinding di teras bagian dalam, lalu duduk ndlosor di koridor sambil udud,

Image

Magelang’s Kresna Theater, built in 1955 by Liem Ting Lok. This theater experienced its heyday until the 1970s and persisted up until the 1980s. This image also had been used by Merdeka.

Nonton “gambar idoep” alias film di bioskop, memang salah satu dari sedikit jenis hiburan buat anak muda Magelang, saat itu. Pilihan lainnya, main dingdong atau game di Taman Parkir. Tempat ini kemudian berubah jadi Hero supermarket, sekarang jadi Giant.

Game juga terdapat di lantai atas Gardena department store, swalayan pertama di Kota Magelang. Menurut catatan, mulanya tempat ini adalah bioskop Roxy, kemudian jadi Abadi Theater, lalu jadi bioskop Rahayu.

Banyak anak muda yang cari hiburan dengan sekadar nongkrong dan jalan-jalan di kawasan Pecinan, trotoar pertokoan sepanjang Jalan Pemuda.

Era 1990an ini, oleh orang-orang film disebut sebagai masa mati surinya perfilman Indonesia. Bioskop-bioskop, termasuk di Magelang, dijejali tontonan impor, terutama film Hongkong dan Amerika.

Sementara iklan-iklan film lokal yang terpajang di poster-poster di depan bioskop, umumnya yang menonjolkan adegan esek-esek “nanggung”. Aktor dan artis yang populer saat itu, misalnya, Reynaldi, Aldonna, Feby Renasari Lawrence, Inneke Koesherawaty, Ibra Azhari dan Malvin Shayna.

Beberapa film yang dibintangi nama-nama itu, aku juga nonton. Maklum, saat itu baru masa puber.

Seringkali, pada saat adegan panas mulai, beberapa penonton, tentu saja yang laki-laki, akan langsung nyeletuk, berteriak: “Wayooo, teruuus, sikat terus…” Penonton yang lain tertawa.

Teriakan juga pasti terdengar, kalau tiba-tiba layar padam karena proyektor mengalami gangguan, tatkala film tengah berlangsung. “Woyyy, asuuu, celeeeng, bajingaaan…” Beberapa orang mengumpat, sambil menggebrak-gebrak kursi kayu.

Gelapnya ruang bioskop, juga bisa jadi kesempatan bagi cowok dan cewek berciuman…

Bayeman Theater, Saturday, July 5, 2008. Now, the building is just a story, a memory...

Bayeman Theater, Saturday, July 5, 2008. Now, the building remains a story, a memory…

Sabtu pagi, 5 Juli 2008. Sinar matahari masih keemasan, ketika aku memotret Bayeman Theater dengan Canon 350D. Bangunan beratap seng warna cream dan hijau muda pudar itu, telah dipagari seng. Dindingnya tak tampak. Ia sudah lama bangkrut.

Aku senang masih punya foto itu. Sebab sekarang, memotretnya lagi jelas tak mungkin, karena ia telah dirobohkan, dan sekarang sudah disulap jadi bangunan anyar.

Sementara Tidar dan Magelang Theater, yang didirikan tahun 1980an pada masa Walikota Mochammad Soebroto, tutup pada 11 November 2011.

Sejak saat itu, Magelang tak punya lagi bioskop, melainkan beberapa bangunan bekas bioskop. Ada yang cuma jadi sarang tikus dan kecoa, ada pula yang sudah berubah fungsi jadi sekolah, tempat ibadah, rumah dinas, serta tempat belanja…***

Teks dan foto oleh Sahrudin

4 responses to “MT, Tidar, Bayeman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s