Maresch dan Potret Jadul Magelang

Image

DI SEBUAH tanah lapang, dengan bukit di salah satu sisinya. Puluhan serdadu berkuda berparade di depan barisan serdadu lainnya. Penunggang kuda terdepan memberi hormat. Yang diberi hormat, tentulah sang commandant, karena ia berdiri di muka, sendirian.

Sahrudin, MagelangImages

Potret sephia usang itu berjudul “31 Augustus Parade op het Tidarterrein. Magelang” – Parade 31 Agustus di Lapangan Tidar. Peserta parade, baik penunggang kuda maupun yang berdiri berjajar, merupakan serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) alias Tentara Hinda Timur Kerajaan Belanda.

Parade tersebut diadakan untuk memperingati Koninginnedag (Queen’s Day, Hari Ratu), ulang tahun Ratu Wilhelmina. Seragam para tentara KNIL dalam parade itu, bukan baju loreng sebagaimana dipakai saat berperang.

Mereka mengenakan pakaian kavaleri khas kerajaan Eropa, lengkap dengan selempang di pundak, pedang di pinggul kiri, dan sebagai penutup kepala, topi bermahkota jambul. Bisa jadi, seragam itulah yang diadaptasi para pemain marching band jaman sekarang.

Tempat berlangsungnya parade itu, yang dalam potret disebut “Tidarterrein“, sepertinya yang kemudian jadi Gelanggang Remaja Manunggal, dan sekarang, lapangan golf Borobudur milik Akademi Militer.

Sekilas, tak tampak rimbunnya pepohonan cemara sebagaimana saat ini. Potret-potret Bukit Tidar di masa lalu pun rata-rata begitu itu adanya: Bukit Tidar tertelungkup diselimuti rumput ilalang tebal. Dari kejauhan, bentuknya serupa topi baja tentara.

Selain tanggal dan bulan, tak diketahui persis tahun berapa potret itu dibuat atau dicetak. Hanya diperkirakan, tahun 1920an. Penerbit/percetakan potret itu adalah N.V.H.V. Maresch, yang juga kerap ditulis N.V. Maresch atau H.V. Maresch.

Bukan cuma “31 Augustus Parade op het Tidarterrein. Magelang”. Ada belasan, bahkan puluhan kartupos-potret (prentbriefkaart) yang diterbitkan Maresch, selama tahun 1910an sampai 1940an. Kartupos-kartupos itu dijual dalam bentuk cetak (drukwerk), namun tentu saja, di-scan dan ditawarkan online.

Image

Para pekerja N.V.H.V. Maresch, Magelang, Maret 1935.

Kartupos-potret lain yang dicetak dan diterbitkan Maresch, misalnya, “Militair Zwembassin bij Kali Ello. Magelang“, atau “Kolam Renang Militer di Kali Elo. Magelang”. Yang dimaksud dalam foto tahun 1910an (ada yang menyebutkan 1930an) ini, yaitu kolam renang yang terletak di cekungan Pisangan, yang sekarang dimiliki Akademi Militer.

Kata “Zwembassin” pada teks foto itu, kini juga sudah jarang, bahkan mungkin tidak dipakai lagi oleh orang Belanda. Untuk menyebut kolam renang, orang Belanda saat ini menggunakan kata “openluchtzwembad” atau “zwembad” saja. (Silakan tanya Ravael Van der Vaart atau Robin van Persie kalau tidak percaya…)

Kartupos adalah media komunikasi jarak jauh, yang sekaligus berfungsi sebagai suvenir. Tulisan tangan pada kartupos yang dikirim dari Magelang ke Belanda dulu itu, banyak yang susah dibaca. (Bukannya ngenyek, tulisan kompeni, dari dulu sampai sekarang, katanya memang buruk, susah dieja, kayak tulisan dokter, mirip cekeran ayam dan baretan meong).

Belum lagi, alamat atau tempat di Magelang pada masa lalu, kini mungkin sudah banyak yang diganti namanya.

Potret berupa kartupos itu, masih bisa ditemui di sejumlah situs internet. Ada penjual yang menuliskan Maresch sebagai penerbit (uitgeverij, editeur, publisher), banyak pula yang tak menyantumkannya.

Alamat penjualnya pun bukan hanya di Belanda, tapi sudah tersebar mulai dari Swiss, Jerman, Kanada, Amerika Serikat dan Inggris. Bahkan mungkin ada yang tinggal di Kaliangkrik atau Ngablak. Who knows yah?

Kartupos cetak yang ditawarkan melalui internet itu, ada yang dihargai 4 Euro, 5 Euro dan 8 Euro. Ada pula yang menjualnya beberapa belas dolar Amerika. Banyak yang sudah beli, ada yang masih menunggu kolektor barunya.

Untuk mencari tahu siapa pemotret yang mengabadikan berbagai tempat dan peristiwa di Magelang itu, sudah pasti, akan jadi mission almost-impossible. Sulit.

Terlebih lagi, kalau harus merunut merek dan tipe kameranya. Meski, beberapa catatan menyebutkan, tahun 1920an merupakan masa lahirnya kamera TLR (twin lens reflex), yang antara lain memunculkan merek Rolleiflex.

Maresch tak cuma menyetak dan memubikasikan gambar dari Magelang. Tahun 1940, salah satu buku yang pernah ia terbitkan adalah “De Steenen Spreken. De Goddelijke Boodschap der Groote Pyramide“, sebuah hasil studi tentang  Piramida Giza di Mesir.

Salah satu buku itu kini jadi koleksi Antiquariaat van Hoorn, Nijmegen, Belanda. Melalui sebuah situs, buku bersampul tebal berisi 512 halaman itu ditawarkan seharga 50 Euro, atau sekitar Rp 700 ribu. Sampul belakang buku itu dalam kondisi rusak ringan.

Beberapa buku lain juga sempat dicetak dan diterbitkan Maresch.

Lantas, siapa wong Londo yang mendirikan N.V.H.V. Maresch?

Alhamdulillah, situs pencari Google tak banyak membantu. Begitu saya enter N.V.H.V. Maresch, yang kemudian muncul hanyalah sepuluh baris link. Semuanya berisi potret tentang Magelang pada masa 1910an, 1920an dan 1930an. Semuanya dicetak dan dirilis N.V.H.V. Maresch.

Oke. Kita cari singkatan N.V.H.V. dulu.

Tahun 1920an, ada perusahaan Belanda bernama Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging  Amsterdam. Namun, menurut sejumlah sumber, perusahaan kompeni ini lebih fokus pada usaha perkebunan yang beroperasi di Jambi, di Pulau Sumatera.

Lantas, apakah N.V.H.V. di depan Maresch juga merupakan kependekan dari Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging? Belum ditemukan sumber yang menguatkan pertanyaan ini.

Pencarian selanjutnya didasarkan pada nama Maresch. Dari sebuah situs pencari silsilah, muncul 29 orang bernama keluarga Maresch.

Diantara nama-nama turunan Maresch ini, ada yang lahir pada tahun 1600an, 1700an 1800an dan awal 1900an. Ada yang berkewarganegaraan Austria, Jerman, dan Republik Czech. Ada yang tidak diketahui tempat lahirnya, ada yang tidak diketahui di mana kuburnya.

Mencari “Maresch Family” lewat Facebook, lebih tidak nyambung lagi. Karena yang muncul kemudian justru sebuah keluarga dari negara tetangga kita, Filipina.

Alhasil, cerita tentang N.V.H.V. Maresch untuk sementara mentok sampai di sini. Keberadaan bekas bangunan dan kantor penerbit itu pun masih coba ditelusuri. Seperti Ayu Ting-Ting, yang terus kebingungan mencari alamat…

Dan apapun hasilnya nanti, yang tetap perlu saya ketahui adalah, N.V.H.V. Maresch telah ikut menyumbang dokumentasi dan khasanah peradaban Magelang…***

***Kedua potret merupakan terbitan N.V.H.V. Maresch, diambil dari E-bay dan Sammeln Delcampe.

2 responses to “Maresch dan Potret Jadul Magelang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s