Manusia Rejosari, Manusia Besi dan Api

REJOSARI A

Bunyi kelontang besi, percik bara dan semburan api, adalah suguhan bagi siapapun yang berkunjung ke desa ini. Entah pagi, siang, sore, bahkan sekalipun pada malam hari. Sebab orang-orang di sini memang hidup dari dua benda itu: besi dan api.

Oleh: Sahrudinalwaysmagelang@gmail.com

PULUHAN sabit, kapak, mata cangkul dan bajak, tersusun rapi di teras rumah Asro, di Dusun Sanggrahan, Rejosari, Pakis, Magelang, beberapa waktu lalu. Beragam bentuk pisau, mulai ukuran kecil sampai sejenis bendo dan parang pun dijejer di situ. Jumlahnya ratusan.

Sepagi itu, belasan, bahkan beberapa puluh orang, terlihat duduk-duduk di halaman rumah Asro. Ada yang mengobrol, ada yang merokok.

Orang-orang itu sedang mengantri. Mereka bergantian menunggu alat pertanian dan pertukangannya dikerjakan Manto, anak buah Asro. Manto memakai gerinda, kikir dan batu asah untuk memperbaiki peralatan milik pelanggannya.

Isteri dan anak Asro juga sibuk melayani pembeli berbagai benda tajam. Dua perempuan ini begitu lancar menjawab, ketika calon pembeli bertanya tentang jenis logam yang dipakai untuk bahan cangkul, pisau dan produk lainnya.

“Mulai sepuluh ribu, ada yang seratus ribu. Ada yang mahal lagi”, kata isteri Asro, tentang harga benda-benda yang dijualnya. Ia tak sempat bicara lebih banyak lagi.

Ia cuma menambahkan, untuk biaya perbaikannya, berkisar antara Rp 5 ribu sampai seratus ribuan. Tergantung rusaknya apa, dan perlu tidaknya pakai bahan tambahan dalam perbaikan itu.

Di seberang rumah Asro, Margiono dan kerabatnya juga sibuk mengerjakan produk-produk berbahan logam. Meski tak sebanyak yang mengantri di tempat usaha Asro, paling tidak ada sepuluh orang yang duduk-duduk di situ.

Margiono dan kerabatnya sedang menajamkan beberapa bendo atau pisau besar sejenis parang. Ada yang perlu diproses jadi bara lebih dulu baru kemudian ditempa. Ada yang cukup menggunakan gerinda, kikir dan batu asah.

REJOSARI D

DESA Rejosari jauh dari kawasan perkotaan. Dari pusat Kota Magelang, jaraknya sekitar 20 kilometer ke arah timur. Rute paling mudah untuk mencapai desa ini, yaitu melalui Jalan Raya Magelang-Kopeng. Sekitar 5 kilometer selepas wilayah Tegalrejo, begitu ketemu pertigaan besar pertama, tanyalah pada tukang ojek di situ.

Rejosari, khususnya Dusun Sanggrahan, sudah lama dikenal sebagai desanya para perajin logam. Ada yang mengistilahkan, di sinilah cluster-nya pande besi Magelang.

Kendati tak punya embel-embel “Desa Wisata”, penduduk dusun ini umumnya terbuka pada siapa saja yang berkunjung. Mereka ramah, dan tak pelit berbagi cerita.

Datanglah ke Rejosari selain pada hari pasaran Wage, kalau hendak melihat para perajin logam bekerja. Sebab saat Wage, kebanyakan pande besi memilih libur. Wage adalah hari pasarnya orang-orang Rejosari. Mereka lebih banyak yang sibuk berjualan atau berbelanja di pasar desa.

Sejauh ini, belum ada catatan yang jelas, sejak kapan orang-orang Rejosari jadi pande besi. “Dari dulu. Sudah turun-temurun”, begitu jawaban Sumardi, perajin benda tajam lain di Dusun Sanggrahan.

Lelaki yang baru saja berulang tahun ke 54 ini, bisa dibilang, merupakan pande besi paling terkenal di Rejosari. Namanya, aktivitasnya, prestasinya, tertulis lengkap dalam buku berjudul “Berbagi Rahasia Usaha di Masa Sulit”. Buku ini diterbitkan Grasindo dan SCTV pada 2002 lalu.

Tahun 2006, Sumardi menjadi Juara I Bidang Wirausaha Kerajinan Tingkat Nasional. Ia mengantongi hadiah uang tunai Rp 10 juta. Di lemari ruang tamunya, masih tersimpan plakat marmer penghargaan Citi Microentrepreneurship Award dari Citibank dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sumardi bercerita, menjadi pande besi tak bisa bekerja seperti pengemudi bus. “Sopir kejar-kejaran dengan waktu. Kita nggak bisa”, ujarnya. Apalagi, ketika yang ia kerjakan berupa senjata tajam yang sifatnya sangat pribadi, misalnya samurai, sangkur dan golok.

REJOSARI C

SUDAH 30 tahun lebih Sumardi bergelut dengan besi dan api. Kedua materi itulah yang jadi sumber penghidupannya selama ini. Api yang digunakan berasal dari prapen atau sejenis tungku, dan dihidupkan dengan blower. Dengan api inilah macam-macam benda tajam akan mudah dibentuk.

Saat ini, ada 8 orang yang membantu Sumardi bekerja. Semuanya tenaga terampil, hasil didikan Sumardi selama bertahun-tahun. “Membuat orang yang tadinya tidak bisa jadi terampil, tidak gampang”, ungkap lelaki yang oleh pelanggannya kerap disapa Mbah Mardi ini.

Karena alasan itulah, Sumardi mengaku belum sanggup kalau harus mengerjakan pesanan kerajinan logam dalam jumlah besar. “Lebih dari 100 buah, saya nggak sanggup”, kata lelaki berkacamatan tebal itu.

Ia kemudian menunjukkan sangkur yang dipesan oleh tentara dari Akademi Militer Magelang. Bahannya kelas satu, yaitu baja minyak atau laker. Jumlah yang dipesan ada seratus bilah.

Sangkur-sangkur itu masih setengah jadi. Sumardi dan pekerjanya butuh waktu sekitar 2 bulan untuk merampungkan semuanya. “Belum lagi, banyak yang pesan pisau belihan. Sebentar lagi Idul Adha”, lanjutnya.

Hampir separuh umur Sumardi ia lewatkan dengan besi. Wajar, jika ia tahu betul jenis-jenis logam yang paling cocok untuk bahan benda tajam sesuai peruntukannya. “Untuk menebang pohon, tidak sama dengan bahan pisau untuk menyembelih ternak”, jelasnya.

Begitu pula untuk logam bahan samurai. Menurut Sumardi, yang terbaik adalah laker Jerman. Bisa juga per mobil VW, yang juga buatan Jerman. “Sifatnya lentur, tapi kuat. Asal orisinil, buatan Eropa, biasanya pas untuk bahan samurai”, jelasnya.

Ia bercanda soal samurai-samurai buatan Cina. “Dari luar bagus sekali. Dalamnya elek, empuk“, kata Sumardi, tertawa. Namun, buru-buru ia menambahkan: “Mungkin kalau buatan Cina yang mahal, bagus juga”.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s