When We Use “To + Ing” Together?

toing

Poster by @SahrudinSaja

By: @SahrudinSaja

SUDAH pakai “to” kenapa masih ada tambahan “ing” di belakang kata kerja (verb)? Ibaratnya, kita makan nasi, “sayur”nya mi instan, dan lauknya kerupuk legendar (kerupuk yang terbuat dari nasi basi).

Well, sebelum Pak Guru yang tajir ini menjlentrehkan lebih lanjut kasus di atas, baiknya aku kasih beberapa kalimat sederhana sebagai contoh, ya…

  • She looks forward to meeting you at the gate of hell.
    (Dia berharap bisa bertemu kau di pintu neraka.)
  • We are committed to supporting the anti-tobacco movement.
    (Kami berkomitmen mendukung gerakan ati-rokok.)
  • Are we better going back to eating the way many of our grandparents and great-grandparents did?
    (Apakah kita sebaiknya kembali mengikuti kebiasaan nenek moyang kita dalam hal makan?)

Nah, tiga kalimat di atas merupakan contoh, bagaimana sebuah kalimat yang di situ sudah ada “to”, bisa saja diberi tambahan “ing” pada verb-nya.

Tapi, bagaimana syarat agar kasus “to-ing” ini dapat diterapkan atau berlaku dalam sebuah kalimat? Jawaban aku adalah, at least ada tiga hal yang menjadi pemicunya:

First, yaitu apabila “to” merupakan bagian dari noun alias kata benda (ditambah preposisi/kata depan gabungan).

  • Bambang Widjojanto is best known for his dedication to cultivating anti-graft generation.
    (Bambang Widjojanto dikenal luas karena pengabdiannya dalam melahirkan generasi anti-korupsi.)
  • Ms Puan Drakulawati’s addiction to drinking blood has caused misery and annoyance to her neighbors.
    (Kebiasaan Mbak Puan Drakulawati meminum darah, menyebabkan tetangga-tetangganya jadi sengsara dan jengkel.)

Second, yaitu jika “to” menjadi bagian dari frasa verbal atau kata kerja (ditambah preposition combination). Contoh-contoh kalimat dalam kasus ini, bisa kau lihat di tiga kalimat sederhana yang sudah aku ketik sebagai pembuka tulisan ini.

Third, yakni bila “to” adalah bagian dari sebuah kata sifat atau adjective (ditambah gabungan kata depan.)

  • You will get used to living in the goat shelter.
    (Kau akan terbiasa hidup di kandang kambing.)
  • I am opposed to talking politics, because  it is a waste of time.
    (Saya ogah ngomongin politik, karena cuma buang-buang waktu saja.)

See? Begitulah kira-kira tiga macam dalil terkait fenomena kemunculan “to” dan “ing” secara bersamaan dalam sebuah kalimat. Bisa dipahami? Atau masih tetap bingung? Karepmu lah…***[magelang.images@gmail.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s