Tikus: Mouse or Rat?

x-default

Image credit: Orkin

By: @SahrudinSaja

INI adalah pelajaran untuk orang awam, termasuk saya. Jadi, yang merasa sudah pinter, yang sudah sering bolak-balik Ngablak-London, atau Kaliangkrik-Los Angeles, silakan saja kalau mau minggir: hus-hus-hus!

Sebagaimana judul di atas (memangnya ada judul di bawah?) kali ini yang akan saya “jembengkan” adalah perbedaan antara mouse dan rat.

Dalam bahasa kita, mouse itu tikus, dan rat juga berarti tikus.

Tentu, diantara kita, sampai sekarang masih ada yang beranggapan bahwa rat hanyalah murni another word-nya mouse. Benarkah demikian?

Of course not! Kalau anggapan tadi benar, ngapain saya kurang kerjaan bikin esai ini…

Baiklah, mari kita bikin comparison diantara kedua “temenmu” ini: mouse vs rat.

Dari website www.orkin.com saya temukan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seekor tikus, apabila ia ingin dinobatkan menjadi a mouse, yaitu:

Panjang tubuh berkisar antara 12 sampai 20 sentimeter, sudah termasuk ekornya, dengan berat badan mulai 12 hingga 30 gram.

Adapun seekor rat, panjang tubuhnya bisa mencapai 40 sentimeter bahkan lebih, dan sejurus dengan itu, bobotnya pun akan melebihi berat badan si mouse.

Mouse memiliki ekor berambut, dan sebaliknya, ekor rat biasanya tidak berambut dan seperti bersisik (scaly).

Dalam hal cocot alias mulut, jika diperhatikan, kepunyaan mouse itu terlihat agak-agak “nyegitiga”; sedangkan cangkemnya rat cenderung bujel, tumpul (blunt).

Perbedaan yang paling njelehi, barangkali ini: seekor mouse biasanya mengisingkan antara 40 sampai 100 butir tahi perhari. Sementara rat, yang punya ukuran tubuh lebih gede, ternyata cuma mampu e’ek separohnya — sekitar 20 hingga 50 butir “mendhil” tiap hari.

Kita pun bisa mengira-ngira, apakah perkakas dapur kita baru saja diusel-usel oleh mouse ataukah rat. Sebab, jika mouse yang trunyak-trunyuk, barangkali bekas sentuhan romantisnya tidak akan terlihat secara kasat mata.

Namun, bila pada permukaan piring, wajan, atau rantang kalian ada bekas agak berminyak atau berlemak, ditambah dengan variasi berupa noda-noda agak berbulu gitu, kita patut berbangga (sorry, curiga) bahwa yang baru saja ngesot-ngesot di situ adalah dari kalangan rat.

Dari segi color, baik mouse maupun rat bisa saja berwarna putih, kelabu, atau coklat tua sampai cenderung hitam. Keduanya pun sama-sama binatang nokturnal, alias suka cari maem dan mengais rejeki di malam hari.

Tapi pada intinya, thing that makes a distinct difference between a mouse and a rat, yaitu bahwa tubuh rat dewasa selalu lebih besar ketimbang mouse dewasa.

Oh iya, selain mouse dan rat, rumah kita juga kadang didatangi keponakan mereka yang bernama clurut. Dalam bahasa Inggris, clurut diterjemahkan sebagai “shrew” (mohon jangan diplesetkan jadi shrew mulyani atau shrew mulat).

Meski sama cuit-cuit-cuit-nya, penampilan shrew alias clurut ini sudah terlalu mudah untuk kita kenali. Sehingga, hanya akan buang-buang setrum saja kalau saya juga harus menjlentrehkan karakter shrew, sebagaimana saya menjembengkan perbedaan mouse dan rat tadi.

Suatu malam, ketika sedang nglemprak sembari makan peyek cebong di ruang tamu yang pengap nan lembab, tiba-tiba kalian mendengar bunyi cuit-cuit-cuit, lalu seketika tercium bau kecut: naaah, itu dia… Langsung saja bisikkan: “Sssttt… Asu kowe clurut, bajingan kecut…”***[magelang.images@gmail.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s